Skip to content
Bayangan di Dinding – Relift Media

Bayangan di Dinding

Tiba-tiba dia mulai mondar-mandir di ruangan. Dia menggeser furnitur dengan sentakan keras, berpaling berkali-kali untuk melihat efeknya terhadap bayangan di dinding. Tak satupun garis bentuk mengerikan itu bergoyang.


“Henry bertengkar dengan Edward di kamar kerja pada malam sebelum Edward meninggal,” ujar Caroline Glynn.

Cara bicara Caroline tidak getir, tapi keras mengerikan. Rebecca Ann Glynn menghembuskan nafas setuju. Dia duduk dalam lipatan rok sutera hitam lebar di pojok sofa, dan mengalihkan tatapan ngerinya dari saudaranya, Caroline, kepada saudaranya yang lain, Ny. Stephen Brigham, yang dulu dipanggil Emma Glynn, paling cantik di keluarga. Yang terakhir ini masih cantik, dengan kecantikan luar biasa. Dia memenuhi kursi goyang besar dengan kefeminimannya, dan berayun-ayun lembut, sutera hitamnya berbisik dan jumbai-jumbai hitamnya berkibar. Bahkan goncangan kematian—saudaranya, Edward, tergolek tewas di rumah—tak mampu mengusik ketenangan sikapnya.

Tapi ekspresi ketenangannya berubah sebelum pengumum­an Caroline dan tanggapan ngeri dan pedih dari Rebecca Ann.

“Kupikir Henry sudah mengendalikan tabiatnya, ketika Edward yang malang mendekati ajal,” katanya tajam, sedikit merusak lengkungan merah mulut indahnya.

“Tentu saja dia tak tahu,” gumam Rebecca Ann dalam nada redup.

“Tentu saja dia tak tahu itu,” kata Caroline cepat. Dia menoleh pada saudaranya dengan tatapan curiga yang aneh dan tajam. Lalu dia seakan bersembunyi dari jawaban saudara­nya.

Rebecca menghembuskan nafas lagi. Saudara yang sudah menikah, Ny. Emma Brigham, kini duduk lurus di kursi; dia sudah berhenti berayun-ayun, memandangi mereka berdua dengan penekanan kesamaan keluarga di wajahnya.

“Apa maksud kalian?” katanya kepada mereka berdua. Lalu dia juga seperti bersembunyi dari kemungkinan jawaban yang keluar. Dia bahkan tertawa mengelak.

“Tak ada maksud apa-apa,” kata Caroline mantap. Dia bangkit dan dengan yakin menyeberangi ruangan menuju pintu.

“Mau ke mana?” tanya Ny. Brigham.

“Ada sesuatu yang harus kuperiksa,” jawab Caroline, dan dari nada suaranya, kedua saudaranya segera tahu bahwa dia punya tugas serius dan menyedihkan di kamar mayat.

“Oh,” kata Ny. Brigham.

Setelah Caroline menutup pintu, Ny. Brigham berpaling pada Rebecca.

“Apa Henry banyak bertengkar dengan Edward?” tanyanya.

“Bicara mereka sangat keras,” jawab Rebecca mengelak.

Ny. Brigham menatapnya. Dia belum berayun-ayun lagi, masih duduk lurus, dengan sedikit rajutan tegang di keningnya, di antara lengkungan indah rambut pirangnya.

“Apa kau—dengar sesuatu?” tanyanya dalam suara rendah sambil melirik ke arah pintu.

“Aku ada di seberang koridor di ruang tamu selatan, dan pintunya terbuka sewaktu pintu ini sedikit renggang,” jawab Rebecca dengan wajah agak memerah.

“Kalau begitu kau pasti—”

“Mau tak mau.”

“Semuanya?”

“Hampir semuanya.”

“Apa?”

“Cerita lama.”

“Kurasa Henry marah, seperti biasa, lantaran Edward tinggal di sini berleha-leha padahal sudah menghabiskan semua uang yang ayah wariskan.”

Rebecca mengangguk, sambil takut-takut melirik ke pintu.

Ketika Emma berbicara lagi, suaranya masih teredam. “Aku tahu perasaannya,” katanya. “Menurutnya Edward hidup atas biayanya, padahal tidak.”

“Tidak, dia tidak begitu.”

Judul asli : The Shadows on the Wall ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment