Skip to content
Jendela Perpustakaan – Relift Media

Jendela Perpustakaan

Aku selalu tertarik memandang sekilas kehidupan tak dikenal seperti ini—melihat banyak hal tapi tahu sedikit hal, dan penasaran dengan apa yang sedang dilakukannya, dan mengapa dia tak kunjung menoleh.


Mulanya aku tak menyadari banyaknya pembicaraan tentang jendela itu. Ia hampir berseberangan dengan salah satu jendela ruang duduk kuno dan luas di rumah yang kutempati selama musim panas itu, yang begitu penting dalam hidupku. Rumah kami dan perpustakaan berseberangan di High Street of St. Rule’s, sebuah jalan yang bagus, lebar, dan amat tenang, seperti yang dirasakan orang-orang asing yang datang dari tempat bising. Tapi di malam musim panas ada banyak yang datang dan pergi, lalu keheningan dikepung bunyi-bunyi—bunyi langkah kaki dan suara menyenangkan, dilembutkan hawa musim panas. Bahkan ada momen-momen bising yang luar biasa: waktu pekan raya dan terkadang malam Sabtu, dan saat ada kereta ekskursi. Cuaca malam yang cerah sekalipun takkan melembutkan nuansa keras dan langkah-langkah terhuyung. Tapi pada momen-momen menyenangkan ini kami menutup jendela, dan bahkan aku, yang sangat menyukai ceruk itu, di mana aku bisa mengungsi dari segala kejadian di dalam dan menyaksikan beragam kisah di luar, menarik diri dari menara pengamatanku.

Sebetulnya tak banyak yang terjadi di dalam. Rumah itu milik bibiku, yang tak pernah mengalami apa-apa (puji Tuhan, katanya). Aku percaya banyak hal telah menimpanya, tapi semua itu berakhir pada waktu kedatanganku. Dia sudah tua dan sangat pendiam. Rutinitas hidupnya tak pernah putus. Dia bangun pada jam yang sama setiap hari, dan mengerjakan hal yang sama pada putaran yang sama, hari demi hari sama. Dia bilang ini sandaran terhebat di dunia, bahwa rutinitas merupa­kan jalan keselamatan. Mungkin memang begitu, tapi itu jalan keselamatan yang menjemukan, dan aku rasa lebih baik mengalami kejadian, apapun bentuknya.

Tapi waktu itu aku belum cukup dewasa, segalanya terasa berbeda. Saat itu ceruk jendela ruang duduk menjadi hiburan bagiku. Meski sudah tua (barangkali belum terlalu tua), dia sangat toleran, dan menyayangiku. Dia tak pernah mengucap­kan apa-apa, tapi sering tersenyum padaku ketika melihat bagaimana aku membangun diriku, dengan buku-buku dan keranjang menjahitku. Aku tak banyak bekerja—sesekali aku menjahit bila semangatku sedang tumbuh, atau bila aku melayang dalam impian dan lebih tergoda untuk menurutinya daripada membaca buku. Pada waktu lain, jika bukunya menarik, aku biasa duduk di sana sambil melahap jilid demi jilid, tak memperhatikan siapapun. Tapi aku cukup memper­hatikan. Teman-teman Bibi Mary mampir, dan aku mendengar mereka bercengkerama, meski jarang kudengar-dengarkan. Tapi, jika obrolan mereka menarik, aku merasa keheranan bagaimana itu sampai ke kepalaku, seolah angin meniupkannya padaku. Mereka datang dan pergi, aku merasakan topi bonet mereka meluncur keluar dan masuk, dan gaun mereka berdesir, dan terkadang aku harus bangun menjabat tangan seseorang yang mengenalku, dan menanyakan papa mamaku. Kemudian Bibi Mary akan tersenyum kecil padaku, dan aku menyelinap kembali ke jendelaku. Dia tak pernah keberatan. Padahal ibuku takkan mengizinkanku berbuat begitu, aku tahu. Dia mengingat lusinan tatakrama yang harus dijalani. Dia selalu menyuruhku ke lantai atas untuk mengambilkan sesuatu yang aku yakin dia tak membutuhkannya, atau ke lantai bawah untuk menyampai­kan pesan tak penting kepada pembantu. Dia senang membuat­ku terus berlari. Barangkali itulah alasanku menyukai ruang duduk Bibi Mary, dan ceruk jendela itu, dan gorden yang setengah terjulur, dan dudukan jendela lebar di mana aku bisa mengumpulkan banyak barang tanpa merasa bersalah mem­buat berantakan. Kapanpun kami mendapat masalah di masa itu, kami dikirim ke St. Rule’s untuk meningkatkan ketegaran. Dan inilah yang hendak kuceritakan.

Judul asli : The Library Window ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment