Skip to content
Ikatan – Relift Media

Ikatan

Melebihi ekspresi…matanya membuatku ngeri. Tatapan suamiku itu, yang tak bisa berbicara sepatah katapun, memberitahukan semua isi hatinya. Kilasan matanya bukanlah amarah atau kepedihan…hanya cahaya dingin, tatapan benci.


Ya, pak. Tentu saja, akulah yang menemukan mayatnya. Pagi ini, seperti biasa, aku pergi menebang jatah aras harianku, saat kutemukan mayat di hutan di lembah gunung. Lokasi tepatnya? Sekitar 150 meter dari jalan kereta kuda Yamashina. Hutan bambu dan aras yang sangat terpencil.

Jasadnya terlentang dalam kimono sutera kebiruan dan hiasan kepala kusut bergaya Kyoto. Sebuah sabetan pedang menembus dadanya. Daun-daun bambu yang berguguran di sekelilingnya bernodakan darah. Tidak, darahnya tak lagi mengalir. Lukanya sudah kering, kurasa. Dan juga, seekor serangga perongrong melekat di sana, hampir tidak menghirau­kan langkah kakiku.

Apa aku melihat pedang atau semacamnya?

Tidak, tidak, pak. Aku hanya menemukan seutas tali di akar sebuah pohon aras di dekatnya. Dan…well, selain tali, aku menemukan sisir. Cuma itu. Tampaknya dia berkelahi sebelum dibunuh, sebab rumput dan daun-daun bambu terinjak-injak.

“Ada kuda?”

Tidak, pak. Manusia saja cukup sulit untuk masuk, apalagi kuda.



Waktunya? Sudah pasti sekitar tengah hari kemarin, pak. Lelaki malang itu berada di jalan raya dari Sekiyama menuju Yamashina. Dia sedang berjalan ke arah Sekiyama bersama seorang wanita yang menemaninya di atas kuda, yang kemudian kuketahui sebagai isterinya. Selendang yang ber­gantung dari kepala menyembunyikan wajahnya. Yang kulihat hanya warna pakaiannya, setelan berwarna lilak. Kudanya cokelat kemerahan, dengan bulu tengkuk halus. Tinggi nona itu? Oh, kira-kira empat kaki lima inchi. Karena aku pendeta Buddha, aku tak terlalu memperhatikan detil-detilnya. Well, lelaki itu bersenjatakan pedang, busur, dan anak panah. Dan aku ingat, dia membawa sekitar lebih dari dua puluh anak panah di wadahnya.

Tak kusangka dia akan menemui nasib seperti itu. Sesungguhnya hidup manusia sefana embun pagi atau kilasan halilintar. Ucapanku tak cukup untuk mengekspresikan rasa simpatiku terhadapnya.

Judul asli : In a Grove
藪の中
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment