Skip to content
Kebiasaan Menulis Diari – Relift Media

Bacaan non-fiksi kritik sastra Kebiasaan Menulis Diari

Jika diari semacam ini sedang merosot, dunia tidak rugi banyak. Tapi setidaknya mencatat kegiatan harian setiap malam adalah kesenangan yang tak ada salahnya bagi sebagian orang.



Sebuah suratkabar meratapi merosotnya kebiasaan men­catat diari. Akibatnya, beberapa koresponden menulis bahwa mereka telah mencatat diari sepanjang hidup mereka. Sudah pasti semua diari ini kini berisi entri “Menulis ke Harian ..... untuk menyangkal pernyataan bahwa kebiasaan mencatat diari sedang surut.” Diari-diari dibuat dari hal-hal kecil semacam itu.

Aku menduga inilah alasan kenapa diari begitu jarang dicatat dewasa ini—yaitu karena tak pernah ada kejadian apa-apa pada siapapun. Sebuah diari akan patut ditulis jika itu bisa ditulis seperti ini:

SENIN. “Hari asyik lainnya. Aku menembak sepasang hooligan dalam perjalananku ke tempat kerja dan terpaksa menyerahkan KTP-ku ke polisi. Setiba di kantor, aku kaget mendapati gedungnya terbakar, tapi tepat waktu untuk menyelamatkan traktat rahasia antara Inggris dan Swiss. Andai ini ketahuan publik, perang pasti akan sudah pecah. Aku pergi makan siang di luar dan melihat seekor gajah lepas di Strand. Aku tak terlalu memikirkannya waktu itu, tapi menceritakannya pada isteriku malamnya. Dia setuju itu layak dicatat.”

SELASA. “Ada surat dari solisitor yang memberitahukan aku mewarisi £1.000.000 melalui wasiat seorang penggali emas Australia bernama Tomkins. Saat memeriksa diariku, ternyata aku menyelamatkan nyawanya dua tahun lalu dengan terjun ke dalam Air Terjun Serpentine. Ini sangat memuaskan. Semalam aku berkantor sampai larut karena harus mampir di Palace dalam perjalanan, untuk diberi gelar bangsawan, tapi berhasil menyelesaikan banyak sekali pe­kerjaan sebelum aku disela oleh orang gila berpisau cukur, yang meminta £100. Aku menembaknya setelah bergulat mati-matian. Minum teh di ABC, di mana aku bertemu Duke ..... Jatuh ke dalam Sungai Thames dalam perjalanan pulang, tapi berenang ke darat tanpa kesulitan.”

Celaka! kita tidak bisa melakukan ini. Diari-diari kita sangat biasa saja, sangat membosankan bahkan. Isinya seperti ini: SENIN. “Rasanya ingin tetap di tempat tidur pagi ini dan mengirim surat cuti ke kantor, tapi aku baik-baik saja setelah mandi dan sarapan. Bekerja sampai 13.30 dan makan siang. Setelah itu bekerja sampai jam lima, dan memangkas rambut dalam perjalanan pulang. Setelah makan malam aku baca A Man’s Passion, karangan Theodora Popgood. Jelek. Pergi tidur jam sebelas.”

SELASA. “Dapat surat dari Jane. Bekerja sebentar di pagi hari, dan saat makan siang bertemu Henry, yang memintaku main golf dengannya hari Sabtu. Aku berkata aku akan main dengan Peter, tapi kubilang aku ingin main dengannya Sabtu depannya. Namun, ternyata dia akan main dengan William nanti, jadi kami tak bisa tentukan tanggal. Beli sepatu dalam perjalanan pulang, tapi aku rasa itu akan terlalu sempit. Tapi orang itu bilang sepatunya akan melonggar.”

RABU. “Main domino saat makan siang dan menang lima péni.”

Jika diari semacam ini sedang merosot, dunia tidak rugi banyak. Tapi setidaknya mencatat kegiatan harian setiap malam adalah kesenangan yang tak ada salahnya bagi se­bagian orang, dan di tahun-tahun yang akan datang mungkin sang diaris justru berkepentingan untuk tahu bahwa pada Senin 27 April-lah dia memangkas rambutnya. Sekali lagi, jika di masa mendatang muncul pertanyaan terkait tanggal tepat kematian Henry, kita bakal menemukan bukti dalam diari ini bahwa dia masih hidup sampai selambatnya Selasa 28 April. Itu dapat, meski kemungkinan besarnya tidak akan, bernilai sangat penting. Tapi ada satu jenis diari lain yang takkan bernilai sama sekali. Aku tak mencari dalih untuk memberikan tukilan pilihan ketiga.

Judul asli : The Diary Habit ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, September 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Kebiasaan Menulis Diari

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)