Skip to content
Jiwa Kapitalisme – Relift Media

Bacaan non-fiksi ekonomi Jiwa Kapitalisme

Karena kecondongan alami manusia untuk mencampuri urusan satu sama lain, untuk menstandarisasi umat manusia, untuk menghilangkan perbedaan di atas dan di bawah normal, tidak pernah ada kebebasan apapun, hingga kapitalisme muncul di bumi.



Tidak ada yang seburuk kapitalisme, kata kaum konser­vatif. Ia adalah sebuah bunyi kosong, sebuah kutukan atas nama tuhan gadungan, yang diarahkan oleh kaum revo­lusioner terhadap dunia yang begini adanya, yang telah selalu begini adanya, dan yang akan selalu begini adanya. Kapitalisme adalah realita, kata kaum radikal. Ia adalah penamaan tepat untuk sistem terkini—sebuah sistem vulgar jelek, sebuah mekanisme kasar yang digerakkan oleh energi ketamakan buta, sebuah mekanisme yang dengannya nilai-nilai manusia dan hidup manusia disodok, untuk muncul tercoreng dan kempis dan mati. Jiwa kapitalisme? Paradoks yang jahat!

Kapitalisme sama-sama realita seperti halnya feodalisme. Majikan kapitalis adalah sosok paling menonjol di negara modern, sebagaimana ksatria adalah sosok paling menonjol di zaman pertengahan. Tapi ordo ksatria bukan otomatis feodalisme; yang sama-sama menjadi ciri khas adalah kelas budak. Dalam pengertian fundamental, sistem tersebut ter­kandung dalam relasi timbal-balik antara ksatria dan budak. Kapitalisme, demikian pula, mengimplikasikan kelas majik­an dan kelas pekerja resiprokal dan pengkondisi, tapi sebagai sebuah sistem ia terkandung dalam relasi timbal-balik kelas-kelas ini. Eksistensi sadar para anggota kedua kelas ini di­bentuk, atau setidaknya diwarnai, oleh relasi kapitalistik. Namun tidak dalam cara yang sama, sebab kapitalisme merangsang satu set reaksi dalam pikiran kelas yang mem­pekerjakan, dan satu set reaksi lain dalam pikiran kelas yang dipekerjakan. Tapi reaksi-reaksi beragam ini sama-sama produk kapitalisme, pengiringnya yang tak terelakkan, esensi fisikalnya.

Kapitalisme, sudah pasti, bukan keseluruhan kehidupan modern; dan feodalisme bukan pula keseluruhan kehidupan Zaman Pertengahan. Di negara feodal terdapat kelas-kelas yang tidak, pada hakikatnya, berada di bawah hukum feodal. Yaitu kaum pendeta, para pedagang dan perajin di kota-kota, orang-orang merdeka di desa-desa. Terlebih, ada individu-individu yang berdiri lebih tinggi daripada sistem, misalnya para feodatori, yang sering menyandang keleluasaan agung dari peraturan feodal sempit. Ada pula elemen-elemen yang terbukti tak dapat diasimiliasi, orang-orang asing, orang-orang di luar perlindungan hukum, para peminta-minta. Tapi pikiran rakyat, dengan kecenderungan mengakarnya kepada ketertiban dan keseragaman, menggeneralisir relasi di luar cakupan penerapannya yang semestinya. Bagi uskup dunia­wi, Paus sekalipun adalah seorang feodatri besar; bagi murid pengemis, tuannya adalah sejenis ksatria. Begitupun pada masa sekarang ada banyak elemen yang tidak sesuai dengan kapitalisme. Pekerja independen dan pedagang kecil, kelas-kelas profesional, seniman dan politisi, tidak diatur sebagai­mana mestinya oleh peraturan kapitalistik. Para jagoan besar dunia industri telah memenangkan sejumlah kekebalan dari hukum yang mengatur perilaku majikan-kapitalis tipikal. Tapi keunggulan sistem kapitalistik dibuktikan oleh fakta bahwa semua bentuk-bentuk yang tak dapat diasimilasi ini sedang diterjemahkan ke dalam istilah-istilah kapitalistik. Pertanian bukan lagi “kepemilikan tanah”, melainkan “inves­tasi” atau “lapangan kerja”. Jagoan politik adalah “bos” dan para pendukungnya adalah “pekerja”; mesin politik itu sen­diri adalah “modal yang diinvestasikan”. Bangunan gereja atau sekolah semakin sering dideskripsikan sebagai “pabrik”. Kita mulai mendengar tentang “kontrol efisiensi” atas kuri­kulum perguruan tinggi, tentang “biaya unit” dari penyela­matan nyawa. Petinggi kita yang paling mulia adalah “orang upahannya masyarakat”, dan mendiang Raja Humbert dari Italia biasa menyebut pembunuhan politis sebagai “resiko pekerjaan”.

Dengan kelonggaran sepatutnya untuk kualitas ganjil beberapa contoh yang dikutip di atas, kita masih harus mengakui bahwa mereka mengindikasikan kecenderungan umum untuk menerjemahkan semua pengalaman kekinian ke dalam istilah-istilah kapitalistik. Contoh-contoh tersebut hanyalah indikasi keyakinan kolektif bahwa kapitalisme me­rupakan fakta paling signifikan dalam kehidupan modern. Lantas mengapa kaum konservatif kita bersikeras menen­tang istilah ini, bersikeras menyangkal kandungan konsep­nya? Utamanya karena mereka yang melukiskan kapitalisme mensketsanya dalam krayon hitam, alih-alih melukisnya dalam warna-warni romansa merah mawar.

Menyebut kapitalisme dikaruniai sebuah jiwa memanglah paradoks. Tapi konsepsi jiwa itu sendiri paradoksikal. Ilmu­wan membuangnya sejauh yang dia bisa. Yang mendorong kita untuk secara rasional mengusulkan eksistensi jiwa tak lain adalah amalnya, baik dan buruk. Hipotesis jiwa manusia telah dipaksakan pada kita oleh fakta bahwa di dalam tindakan manusia terdapat sebuah elemen yang melampaui kebutuhan-kebutuhan dan maksud-maksud raga, sebuah elemen yang sering kita lihat tumbuh menjadi sedemikian penting sampai-sampai ia menurunkan raga ke kedudukan instrumen belaka. Kapitalisme juga tampak mengebawahkan maksud-maksud yang melampaui tujuan-tujuannya yang semestinya. Apa tujuan dari—dalam mencari laba—peng­hancuran kepribadian, perusakan sentimen umat manusia, yang kaum Sosialis nisbatkan pada kapitalisme? Bagi kaum Sosialis sendiri, kapitalisme tampak dikaruniai sebuah jiwa, yang demi maksud-maksudnya, proses-proses langsung kapital hanyalah instrumental. Hanya saja, jiwa tersebut adalah jiwa jahat tulen.

Judul asli : The Soul of Capitalism ()
Pengarang : Alvin S. Johnson
Penerbit : Relift Media, Mei 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Jiwa Kapitalisme

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)