Skip to content
Harta Karun China – Relift Media

Harta Karun China

Dia melihat dalam mimpinya bertumpuk-tumpuk emas, dan Chang-hi menghalangi dan bergumul untuk menghalaunya dari itu. Dia merenggut kuncir Chang-hi—betapa besar binatang kuning itu, dan betapa kuat dia bergumul dan menyeringai!



Kano kini mendekati daratan. Teluk menghampar, dan sebuah celah pada ombak pecah putih batu karang menandai tempat di mana sungai kecil berujung ke laut; hijau hutan perawan yang lebih pekat dan dalam menunjuk­kan jalurnya menuruni lereng bukit di kejauhan. Di sini hutan mendekat ke pantai. Jauh di sana, redup dan ber­tekstur nyaris mirip awan, menjulang gunung-gunung, bagai ombak yang tiba-tiba beku. Lautnya tenang kecuali satu gelombang yang hampir tak kelihatan. Langit berkobar-kobar.

Pria dengan dayung berukiran berhenti. “Harusnya di sekitar sini,” katanya. Dia memuatkan dayung dan mengulur­kan kedua lengannya lurus ke depan.

Pria satu lagi ada di bagian depan kano, mengamat-amati daratan dengan seksama. Ada selembar kertas kuning di atas lututnya.

“Kemari dan lihat ini, Evans,” katanya.

Kedua orang ini berbicara dalam nada rendah, dan bibir mereka keras dan kering.

Pria bernama Evans datang terombang-ambing menyu­suri kano sampai dia bisa menengok lewat bahu rekannya.

Kertas itu memiliki tampilan sebuah peta corat-coret. Karena sering dilipat, itu kusut dan lusuh sampai tercerai-berai, dan pria kedua menyatukan fragmen-fragmen luntur di bagian yang berpisah. Pada permukaannya orang bisa samar-samar melihat sketsa teluk dalam guratan pensil yang hampir terhapus.

“Di sini,” kata Evans, “adalah batu karangnya, dan di sini adalah celahnya.” Dia menyusurkan kuku jempolnya di atas peta itu.

“Garis lengkung dan berkelok-kelok ini adalah sungai—aku bisa minum sekarang!—dan bintang ini adalah tempat­nya.”

“Kau lihat garis putus-putus ini,” kata pria pemegang peta. “Itu adalah garis lurus, dan memanjang dari bukaan batu karang ke serumpun pepohonan palem. Bintangnya terletak persis di mana itu memotong sungai. Kita harus tandai tempat itu sambil masuk ke dalam laguna.”

“Aneh,” kata Evans, setelah jeda. “Untuk apa tanda-tanda kecil ini di sini. Kelihatan seperti denah sebuah rumah atau semacamnya; tapi apa arti garis-garis kecil ini, menunjuk ke sana dan sini, aku tak punya bayangan. Dan apa tulisannya?”

“Bahasa China,” kata pria pemegang peta.

“Sudah pasti! Dia kan orang China,” kata Evans.

“Mereka semua orang China,” kata pria pemegang peta.

Mereka berdua duduk beberapa menit memelototi darat­an, sementara kano hanyut pelan-pelan. Kemudian Evans menengok ke arah dayung.

“Giliranmu mendayung sekarang, Hooker,” katanya.

Dan rekannya dengan tenang melipat peta, memasuk­kannya ke dalam saku, berhati-hati melewati Evans, dan mulai mendayung. Gerakannya lesu, seperti orang yang tenaganya hampir habis.

Evans duduk dengan kedua mata menyipit, mengamati karang penahan ombak yang berbuih-buih merangkak kian dekat. Langit bagaikan tungku, lantaran matahari dekat zenit. Meski mereka begitu dekat dengan Harta Karun itu, dia tidak merasakan kegembiraan meluap-luap seperti yang disangka. Asyiknya pergumulan memperebutkan denah itu, dan pelayaran malam yang panjang dari daratan utama di atas kano tanpa perbekalan, sudah, meminjam ungkapannya sendiri, “mencabut itu darinya”. Dia coba menggugah dirinya dengan mengarahkan pikiran pada batang-batang yang dibicarakan orang-orang China itu, tapi pikirannya tak mau berdiam di situ; itu balik lagi lintang-pukang ke riakan manis air di sungai, dan ke keringnya bibir dan tenggorokannya yang hampir tak tertahankan. Sibakan ritmik laut pada batu karang mulai kedengaran sekarang, dan suaranya meng­enakkan di telinganya; air menyibak sepanjang sisi kano, dan dayung bertitisan di antara setiap kayuhan. Tiba-tiba dia mulai mengantuk.

Dia masih samar-samar sadar akan pulau itu, tapi suatu tekstur mimpi yang janggal berjalin dengan indera-indera­nya. Sekali lagi datanglah malam di mana dia dan Hooker menemukan rahasia orang-orang China itu; dia melihat pepohonan diterangi bulan, api kecil membara, dan sosok-sosok hitam tiga orang China—terperakkan di satu sisi oleh cahaya bulan, dan di sisi lain berpijar-pijar karena cahaya perapian—dan mendengar mereka berbincang dalam bahasa Inggris pijin—sebab mereka berasal dari provinsi-provinsi berlainan. Hooker menangkap seliweran perbincangan mereka duluan, dan memberi isyarat kepadanya untuk mendengarkan. Penggalan-penggalan percakapan itu tak kedengaran, dan tak bisa dimengerti. Sebuah kapal galiun Spanyol dari Filipina yang kandas tanpa harapan, dan harta­nya dipendam sebagai antisipasi untuk hari kepulangan, menjadi latar cerita; seorang awak kapal karam yang kurus akibat penyakit, sebuah pertengkaran atau kira-kira begitu, dan perlunya disiplin, dan akhirnya lari ke perahu-perahu mereka dan tak pernah terdengar lagi. Kemudian Chang-hi, baru setahun sejak saat itu, yang mengembara di darat, menemukan batang-batang yang disembunyikan selama dua ratus tahun, meninggalkan kapal jung-nya, dan memen­dam mereka kembali dengan susah-payah, sendirian tapi sangat aman. Dia menaruh penekanan besar pada keamanan—itu rahasia miliknya. Kini dia butuh bantuan untuk kembali dan menggali mereka. Tiba-tiba peta kecil itu berkepak-kepak dan suara-suara itu tenggelam. Sebuah cerita bagus untuk didengar oleh dua pemboros Britania yang terdampar!

Judul asli : The Treasure in the Forest ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Harta Karun China

  • Unduh

    Harta Karun China

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2021)