Skip to content
Sumur Tua – Relift Media

Sumur Tua

Sumur itu, yang sudah lama tak dipakai, hampir ter­sembunyi oleh jeratan semak-semak tebal yang merusuh di sudut taman tua. Itu tertutup sebagian oleh penutup yang menyusut dan tinggal setengah.


Dua orang pria berdiri di ruang biliar sebuah rumah pedesaaan tua, berbincang-bincang. Permainan yang berlangsung setengah hati sudah selesai, dan mereka duduk di jendela terbuka, memandang taman yang terhampar di bawah, bercakap-cakap iseng.

“Waktumu hampir habis, Jem,” kata salah seorang lama-kelamaan, “waktu enam minggu ini kau akan menguap bosan dengan bulan madu dan menyumpahi pria—wanita maksudku—yang menciptakannya.”

Jem Benson merentangkan tungkai-tungkai panjangnya di kursi dan menggerutu tak setuju.

“Aku tak pernah mengerti,” sambung Wilfred Carr, menguap. “Itu tak ada dalam garis pemikiranku sama sekali; aku tak pernah punya cukup uang untuk keperluanku sendiri, apalagi untuk dua orang. Mungkin kalau aku sekaya dirimu atau Croesus, aku akan memandangnya lain.”

Ada cukup maksud dalam bagian terakhir ucapannya, jadi sepupunya menahan diri untuk membalas. Dia terus memandang ke luar jendela dan mengisap cerutu pelan-pelan.

“Karena tak sekaya Croesus—atau dirimu,” lanjut Carr, memandangnya dari bawah kelopak yang melorot, “aku mendayung sampanku sendiri menyusuri sungai Waktu, mengikatnya pada kusen pintu sahabat-sahabatku, dan masuk menyantap makan malam mereka.”

“Sungguh Venesia,” kata Jem Benson, masih memandang ke luar jendela. “Tidaklah buruk kau dapat kusen pintu dan makan malam—dan sahabat, Wilfred.”

Giliran Carr menggerutu. “Tapi serius, Jem,” katanya pelan, “kau orang beruntung, sangat beruntung. Jika ada gadis lebih baik di muka bumi daripada Olive, aku ingin bertemu dengan­nya.”

“Ya,” kata Benson diam-diam.

“Dia gadis luar biasa,” sambung Carr, menatap ke luar jendela. “Dia begitu baik dan lembut. Dia menganggap kau kumpulan segala kebajikan.”

Dia tertawa lepas dan gembira, tapi yang lain tidak ikut-ikutan. “Perasaan kuat—akan benar dan salah,” sambung Carr, merenung. “Apa kau tahu, aku yakin kalau dia sampai tahu bahwa kau tidak—”

“Tidak apa?” desak Benson, menatapnya sengit, “tidak apa?”

“Semua yang jadi sifatmu,” balas sepupunya, dengan seringai yang mengingkari kata-katanya. “Aku yakin dia akan meninggalkanmu.”

“Bicarakan hal lain saja,” kata Benson pelan. “Kelakarmu tidak selalu berselera bagus.”

Wilfred Carr bangkit dan mengambil kiu dari rak, lalu membungkuk di atas meja biliar dan mempraktekkan satu atau dua tembakan favorit. “Satu-satunya subjek lain yang bisa kubicarakan saat ini adalah urusan keuanganku sendiri,” katanya pelan sambil mengitari meja.

“Bicarakan hal lain saja,” kata Benson lagi tanpa basa-basi.

“Dan dua hal itu berkaitan” kata Carr. Menurunkan kiu, dia setengah duduk di atas meja dan menatap sepupunya.

Hening panjang. Benson melempar cerutunya ke luar jendela, dan bersandar sambil memejamkan mata.

“Kau ikut aku?” tanya Carr lama-kelamaan.

Benson membuka mata dan mengangguk di jendela. “Kau mau ikut cerutuku?” tanya Benson.

“Aku lebih suka lewat jalan biasa demi kebaikanmu,” balas Carr tanpa malu. “Kalau aku pergi lewat jendela, segala macam pertanyaan akan ditanyakan, dan kau tahu betapa bawel aku ini.”

“Asal tidak bicara soal urusanku,” timpal Benson, menahan diri dengan susah-payah, “kau boleh bicara sampai serak.”

Judul asli : The Well ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, February 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment