Skip to content
Korban Tabrak Rel – Relift Media

Korban Tabrak Rel

Itu tak bisa dilawan oleh manusia berbudi, biarpun setengah mabuk. Dia berputar balik ke arah rel beberapa langkah. Lalu berhenti, dan sekali lagi suara suram menyapa telinganya.


Beberapa tahun silam, sekitar 15 mil dari London, seorang pria bernama Freeling, yang sedang pulang dari desa A..... ke desa B....., jarak hanya 4 mil, harus menyeberangi salah satu dari dua lintasan utama kereta yang membentang ke utara dari metropolis raya dan memintas distrik-distrik padat Inggris. Kalau boleh cerita yang sebenarnya persis tentang pria ini, dia habis mengunjungi seorang teman—orang kaya, dan sama-sama di jalur hortikultur, florikultur, dan agrikultur, di mana pikiran Tn. Freeling cenderung melaju. Kalau boleh cerita yang sebenarnya sedikit lagi, meski ingin sekali cerita semuanya, usai memeriksa, menyetujui, dan mengagumi keterampilan temannya dan buah dari keterampilan itu, Tn. Freeling diundang oleh Tn. Goodwin untuk makan malam; dan aku yakin si tamu meminum simpanan spiritual dan anggur tuan rumah agak berlebihan. Tapi dia tak kehilangan penglihatan dan pendengaran; kalau ya, dia tidak akan seperti karakter dalam cerita ini.

Jalan pulang Tn. Freeling dari rumah temannya, setelah menyeberangi rel kereta, melewati ruas sempit tak jauh dari sebuah stasiun. Namun, mungkin mujur buatnya, dia tidak tahu bahwa dekat jalan setapak di seberang lintasan (yakni lintasan kereta) terjadi tabrakan hebat pada saat kedua amatir dusun ini membahas kemeriahan sang tuan rumah—sekitar empat jam sebelum insiden yang akan kuceritakan. Akan tetapi puing-puingnya sudah dibersihkan sebelum kawan kita ini melintasi tempat musibah, dan tak sepotongpun reliknya kelihatan dalam terang bulan. Dia belum jauh melewati rel ketika merasa mendengar suara lirih mirip erangan; dan kalau dirinya ahli menilai hal-hal semacam itu (pikirnya), itu adalah rintihan pria atau wanita yang kesakitan. Dia berhenti sejenak; mendengar-dengarkan. Hening. Dia maju satu atau dua langkah; men­dengar-dengarkan lagi; dan angin membawakannya ulangan rintihan. Mungkinkah dia salah dengar? tanyanya pada diri sendiri. Tidak; itu suara manusia, mungkin orang mabuk. Kalau ya, pikiran pertama yang berbisik adalah dia harus putar balik dan memastikan orang itu tidak sedang terlentang di rel lokomotif atau gerbong-gerbongnya. Konon, pikiran kedua adalah pikiran terbaik—dan, jika egoisme lebih baik daripada kemasabodohan, pikiran kedua Tn. Freeling lebih baik daripada pikiran pertamanya. Apa masalahnya buat dia, debatnya dengan diri sendiri, jika orang-orang sedang mabuk? “Mereka harus menderita karena itu” adalah pikiran kedua sang pria setengah mabuk. Maka dia kembali berjalan susah-payah; tapi suara tadi, kali ini lebih nyaring, menyerbunya sekali lagi. Pada hakikatnya dia bukan orang yang tak perhatian; dan walaupun rumah memiliki daya tarik istimewa buatnya dalam kondisinya saat itu, dia dipaksa oleh kekuatan fitrah manusiawinya untuk berhenti sejenak.

Erangan lagi. Tak salah lagi. Seseorang sedang terlentang di suatu tempat di dekatnya dalam kesakitan. Dia berteriak:

“Halo! Apa yang terjadi?”

Dijawab dengan erangan sayup.

“Di mana kau?” pekiknya.

Lagi-lagi rintihan.

Itu tak bisa dilawan oleh manusia berbudi, biarpun setengah mabuk. Dia berputar balik ke arah rel beberapa langkah. Lalu berhenti, dan sekali lagi suara suram menyapa telinganya.

“Seseorang,” kata si pelancong sendirian, “pasti sedang terlentang di rel dalam kondisi sekarat. Apa yang bisa kulaku­kan? Stasiun terdekat, B....., dua mil jauhnya; rumah terdekat dua mil. Tapi tetap aku harus temukan di mana dia, dan apa yang terjadi padanya, dan berbuat sebisaku untuk menolong­nya.”

Keputusan ini diambil, dia berjalan balik, sekali-sekali ber­henti untuk mendengar-dengarkan, dan sekali-sekali dipandu oleh jeritan kesakitan yang mengaduh.

Judul asli : A Railway Accident ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, July 2019
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment