Skip to content
Ruang – Relift Media

Ruang

Aku tak pernah memimpikan hal semacam ini. Aku—aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya, dan aku tak tahu bagaimana menjelaskannya tapi—tapi aku jadi sadar, ada makhluk lain—pikiran lain—yang bergerak di Ruang selain pikiranku.


Leithen menuturkan kisah ini suatu malam di awal September sewaktu kami duduk di pinggir lintasan kuda poni yang berkelok-kelok dari Glenavelin menyusuri Correi na Sidhe. Aku tiba dari selatan siang itu selagi dia libur satu hari dari perburuan sepekan. Maka kami tapaki lembah kecil tersebut bersama-sama usai minum teh demi mencari kabar tentang hutan. Penembak sedang beraksi di rute Correi na Sidhe, segulung asap tipis membumbung dari puncak Sgurr Dearg yang menunjukkan seekor rusa jantan telah ditembak mati di bagian kepalanya. Si poni kaku bermuatan daging punggung rusa telah mendaki Correi di bawah tanggungjawab seorang bujang, sementara kami mengekor dengan santai, memilih-milih jalan di antara batuan granit goyah dan petak-petak tanah berlumpur yang lembab. Lintasan menanjak tinggi pada salah satu punggung bukit Sgurr Dearg, hingga ber­gantung di atas kawah lembah kecil hijau dengan Alt-na-Sidhe yang menggelora dalam air terjunnya seribu kaki di bawah. Aku ingat, malam itu tak ada angin, langit biru pucat baru saja tersingkap dari kabut. Udara angin Barat mungkin menjadikan Utara, bahkan di bulan September, seperti tiruan Daerah Tropis, dan aku tulus merasa iba pada orang ini, yang selama jam-jam menyesakkan ini bekerja banting tulang di landaian Sgurr Dearg berlapis batuan goyah. Segera kami duduk di atas seonggok semak heather, dan iseng-iseng mengamati palung yang terendam di bawah kaki kami. Gemerincing kuku poni kian sayup, dengungan lebah sudah pergi, bahkan serangga midge seolah lupa akan pekerjaannya. Tak ada tempat di bumi yang bisa sehening cagar rusa di awal musim sebelum rusa-rusa jantan mulai meraung; tidak ada seekor domba pun dengan bunyi bersahajanya, hanya kuakan langka seekor gagak yang memecah kesunyian. Lereng bukit sama sekali tidak terjal—orang bisa berjalan menuruninya dengan sedikit hati-hati—tapi bentuk lembah dan kilasan air putih di kejauhan memberinya nuansa kedalaman dan ruang luar biasa. Ada sisa gemerlap dari panas siang, yang menyandangkan ketidak-nyataan khayali pada pohon pakis, batu, dan landaian. Orang mungkin nyaris percaya bahwa pandangan telah mengecoh pikiran, bahwa semuanya adalah fatamorgana, bahwa lima yard dari lintasan ini tanah padat menghilang ke dalam kenihilan. Otakku jelek, dan secara naluriah aku mundur lebih jauh ke dalam semak heather. Mata Leithen menatap hampa ke depan.

“Apa kau pernah kenal Hollond?” tanyanya.

Lalu dia tertawa singkat. “Entah kenapa kutanyakan ini, tapi tempat ini serasa mengingatkanku pada Hollond. Lembah berkelip redup itu seolah-olah gerbang keabadian. Pasti mengerikan selalu hidup dengan perasaan seperti itu.”

Leithen tampak enggan melakukan penghikmatan lebih jauh. Dia menyulut pipa dan merokok senyap sejenak. “Aneh juga kau tidak kenal Hollond. Kau pasti pernah dengar nama­nya. Kukira kau menghibur diri dengan metafisika.”

Lantas aku ingat. Ada seorang jenius ngawur yang menulis beberapa artikel dalam Mind tentang subjek suram itu, konsepsi matematis ketakterhinggaan. Orang-orang menyanjung tulis­annya di depanku, tapi kuakui aku tak pernah begitu mengerti argumen mereka. “Bukankah dia semacam profesor matema­tika?” tanyaku.

“Profesor matematika dan, dengan caranya, pesolek hebat. Dia menulis buku tentang Angka yang telah diterjemahkan ke setiap bahasa Eropa. Sekarang dia sudah mati, dan Royal Society memprakarsai sebuah medali demi menghormatinya. Tapi aku tidak memikirkan sisinya yang itu.”

Ini waktu dan tempat yang tepat untuk bercerita, karena kuda poni belum akan kembali dalam satu jam. Maka kutanya Leithen tentang sisi lain Hollond yang teringatkan oleh Correi na Sidhe. Dia tampak sedikit segan untuk bicara:

Judul asli : Space ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, December 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment