Skip to content
Dia? – Relift Media

Dia?

Mulanya aku merasakan kegusaran samar dalam akalku, yang membuat seluruh tubuhku merinding. Kutengok seke­liling, dan tentu saja tak terlihat apa-apa, padahal kuharap ada sesuatu di sana, apa saja, asalkan berwujud.


Kau bilang kau tak bisa memahaminya, dan aku percaya. Kau pikir aku hilang akal? Mungkin ya, tapi untuk alasan selain yang kau bayangkan, sobat.

Ya, aku akan menikah, dan akan kuceritakan apa yang membuatku mengambil langkah itu.

Boleh kutambahkan, aku tidak tahu banyak tentang gadis yang akan jadi isteriku besok; baru empat atau lima kali kami bertemu. Aku tahu, tak ada yang tidak menyenangkan darinya, dan itu cukup untuk rencanaku. Dia mungil, langsat, dan begap; jadi pasti lusa aku akan menginginkan wanita jangkung, gelap, kurus.

Dia tidak kaya, dari golongan menengah. Dia gadis yang dapat kau jumpai rata-rata, cocok untuk ikatan pernikahan, tanpa cela kentara, dan tanpa kualitas mencolok. Orang-orang berpendapat tentangnya:

“Mlle. Lajolle gadis yang sangat baik,” dan besok mereka akan bilang: “Sungguh wanita yang sangat baik Madame Ray­mon ini.” Pendek kata, dia termasuk gadis-gadis kebanyakan yang disenangi seorang pria untuk jadi isterinya, sampai tiba momen ketika pria tersebut merasa lebih menyukai semua wanita lain dibanding wanita yang telah dinikahinya.

Well,” kau akan bilang padaku, “lantas kenapa kau menikah?”

Aku enggan memberitahukan alasan aneh dan mustahil yang terus mendorongku kepada tindakan bodoh ini; namun faktanya aku takut sendirian.

Entah bagaimana mengatakannya padamu atau membuat­mu mengerti, tapi kondisi pikiranku begitu buruk; kau pasti akan mengasihaniku dan menganggapku hina.

Aku tak mau lagi sendirian di malam hari. Aku ingin merasa ada seseorang di dekatku, menyentuhku, seorang makhluk yang bisa bicara dan mengatakan sesuatu, tak peduli apapun itu.

Aku ingin bisa membangunkan seseorang di sampingku, agar aku bisa menanyakan suatu pertanyaan mendadak, bahkan pertanyaan konyol, kalau aku mau, agar aku bisa dengar suara manusia, dan merasa ada suatu jiwa terjaga di dekatku, seseorang yang nalarnya bekerja; agar ketika tergesa-gesa menyalakan lilin, aku dapat melihat wajah manusia di sisiku—karena—karena—aku malu mengakuinya—karena aku takut sendirian.

Oh, kau belum mengerti.

Aku tidak takut bahaya apapun; andai seorang pria masuk ke dalam kamar, pasti kubunuh dia tanpa gentar. Aku tidak takut hantu, pun tidak percaya supranatural. Aku tidak takut orang mati, sebab aku percaya pada pembinasaan total setiap makhluk yang lenyap dari muka bumi ini.

Well—ya, well, ini harus diungkapkan: aku takut pada diriku sendiri, aku takut akan sensasi ketakutan yang mengerikan dan sulit dimengerti.

Kau boleh tertawa, kalau mau. Ini buruk, dan aku tak sanggup mengatasinya. Aku takut tembok, perabot, benda familiar; yang digerakkan, menurutku, oleh sejenis kehidupan hewan. Terutama, aku takut pada pikiran seramku sendiri, nalarku, yang seolah-oleh hendak meninggalkanku, diusir oleh penderitaan misterius dan gaib.

Mulanya aku merasakan kegusaran samar dalam akalku, yang membuat seluruh tubuhku merinding. Kutengok seke­liling, dan tentu saja tak terlihat apa-apa, padahal kuharap ada sesuatu di sana, apa saja, asalkan berwujud. Aku ketakutan hanya karena aku tak paham terorku sendiri.

Jika aku bicara, aku takut dengan suaraku sendiri. Jika aku berjalan, aku takut dengan entah apa, di balik pintu, di balik gorden, di dalam lemari makanan, atau di kolong ranjang, tapi selama itu pula aku tahu tidak ada apa-apa di manapun, lalu aku berbalik tiba-tiba karena aku takut dengan apa yang ada di belakangku, padahal tidak ada apa-apa, dan aku tahu itu.

Judul asli : The Terror
Lui?
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, November 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment