Skip to content
Kamar Biru – Relift Media

Kamar Biru

Di zaman prasejarah, Kamar Biru ditambahkan dengan menyerobot lorong tak berguna, jadi ia bukan cuma diuntungkan dengan dua pintu, tapi juga memungkinkan kami sampai ke kepala tangga tanpa melewati bilik di mana bibi naga terbaring.


Bahwa alam memiliki momen simpati terhadap manusia, hal ini cukup sering terlihat, dan pada umumnya sebagai penemuan baru. Bagi kami, yang belum pernah kenal kondisi lain, rasanya wajar dan pantas jika angin bernyanyi dan bersedu di puncak-puncak pohon poplar. Dalam ninabobonya, pancaran hujan tiba-tiba memerciki jalanan penuh debu di hari Maret berangin kencang, ketika aku dan Edward menunggu keda­tangan guru baru di peron stasiun. Tak usah dikatakan, rencana ini dibuat oleh seorang bibi, berdasarkan pertimbangan bahwa sifat malu dan lugu kami akan menampakkan diri selama perjalanan kaki dari stasiun, dan bahwa tersingkapnya sifat keras masing-masing kelak harus menjadi dasar kokoh persa­habatan abadi yang lahir dari rasa saling menghormati. Sebuah mimpi indah—tak lebih. Edward, yang meramal beban tekanan pengajaran akan ditanggung olehnya, bersikap murung, jarang bicara, dan bertekad menjadi penjengkel sebisa mungkin. Oleh karenanya jelas, aku harus jadi juru bicara dan penyetor kesopanan hampa, dan aku tidak lebih ramah untuk itu. Semua kesopansantunan, penyambutan, penjelasan, dan tugas lain ala pengurus istana, adalah hal yang tak kusukai. Ada banyak gejolak cuaca Maret di dalam hati kami berdua, seraya menatap tajam jendela-jendela gerbong kereta yang melambat.

Namun, seseorang condong salah menilai kepelikan sebuah situasi. Ternyata acara penyambutan adalah urusan gampang dan tak formal. Di pedusunan berpenduduk jarang dan begitu seragam, keberadaan seorang guru mudah dikenali. Peti bajunya sudah ditempatkan pada troli bagasi, dia sudah diantar ke lajur, sebelum aku melepas salah satu kalimat yang ditimbang masak-masak. Aku menghirup nafas lebih enteng. Aku mendongak pada teman baru ini selagi kami melangkah keluar bersama-sama. Aku teringat, selama itu kami memper­hitungkan sesuatu yang lebih garing, terpelajar, dan serius. Paras antusias kebocahan, kacamata jepit tak sabaran, rambut acak-acakan, kepala yang berputar cepat dan terus-terusan seperti burung robin, dan suara yang selalu pecah menjadi alto—semua ini amat janggal dan baru, tapi tidak buruk sedikitpun.

Dia berjalan tersentak-sentak melintasi desa, sambil melirik kanan-kiri, dan, “Mempesona,” cetusnya, “terlalu mempesona dan menyenangkan!”

Aku belum perhitungkan sikap semacam ini, dan melirik kepada Edward untuk mencari bantuan. Dia sedang mengan­tongi kedua tangannya, memandang muram ke bawah hidung. Dia sudah memasang gayanya, dan berniat mempertahankan.

Sementara itu, teman baru kami membuat kékér khayalan dengan kepalan tangannya, dan sedang mengintip sesuatu yang tak bisa kulihat. “Elok nian!” serunya, “abad 15, bukan, ya, betul!”

Aku mulai bingung, belum lagi gusar. Itu mengingatkanku akan tukang daging dalam Arabian Nights; tulang-tulang sendi miliknya dipamerkan di muka toko, menampakkan kemanu­siaan terkoyak kepada khalayak yang kaget. Orang ini seolah melihat hal-hal teraneh di lingkungan kami yang familiar dan menjemukan.

“Ah!” serunya lagi, sementara kami terus berlari pelan di antara pagar tanaman, “dan sekarang ladang itu—dilatar­belakangi hutan bergelombang—dengan awan hujan bergelayut di atasnya—semua itu David Cox, setiap kepingnya!”

“Ladang itu milik Petani Larkin,” terangku sopan, sebab tentunya dia tak tahu. “Akan kuajak kau ke tempat Petani Cox besok, kalau dia temanmu, tapi tak ada yang bisa dilihat di sana.”

Edward, yang mengekor sambil cemberut, menyeringai padaku seolah berkata, “Orang gila macam apa ini?”

“Betul-betul berkarakter pedusunan, desa kalian ini,” sambung peminat kami, “cuma dengan sentuhan tambahan di gubuk dan rumah tani, relik seni masa lampau, yang membuat pemandangan Inggris kita begitu indah, begitu khas!”

Judul asli : The Blue Room ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment