Skip to content
Jalan Empat Angin – Relift Media

Jalan Empat Angin

Apa yang membuatmu kemari, ke Jalan Empat Angin ini, naik lima tanjakan ke pintu di mana kau akan disambut? Apa yang mencegahmu lari saat aku berpaling dari kanvas untuk menjumpai mata kuningmu?


Binatang ini berhenti di ambang, siaga penuh tanya, siap lari kalau perlu. Severn menaruh palet, mengulurkan tangan sambutan. Tapi si kucing tak bergeming, mata kuning­nya terpaku pada Severn.

“Puss,” sapanya, dengan suara ramah nan pelan, “ayo masuk.”

Ujung ekor tipisnya kejang tak menentu.

“Ayo masuk,” ulangnya.

Rupanya si kucing merasa tenteram oleh suaranya. Perlahan-lahan dia merangkak, matanya masih terpaku pada Severn, ekornya terselip di bawah panggul ramping.

Severn bangkit dari penopang kanvas sambil tersenyum. Si kucing menatapnya tenang. Tatkala Severn berjalan ke arahnya, dan terus membungkuk, kucing betina ini mengamatinya tanpa berkedip sedikitpun; matanya terus mengikuti gerakan tangan Severn sampai kepalanya disentuh. Lalu dia mengeluarkan meongan tak teratur.

Sudah lama menjadi kebiasaan Severn untuk bercengkerama dengan binatang, mungkin karena tinggal sendirian. Sekarang dia berucap, “Ada apa, puss?”

Sorot takut si kucing mencari sorot matanya.

“Aku mengerti,” ujarnya lembut, “tunggu sebentar.”

Mondar-mandir tanpa suara, dia sibuk dengan kewajiban seorang tuan rumah, membilas piring, mengisinya dengan sisa susu dari botol di ambang jendela, kemudian berlutut, meremukkan roti gulung ke dalam cekung tangannya.

Sang binatang bangkit dan merayap ke arah piring.

Dengan gagang pisau palet dia aduk remahan dan susu tersebut, dan melangkah mundur begitu si kucing menyodor­kan hidungnya ke dalam adukan. Dia memperhatikan dalam diam. Dari waktu ke waktu piring berdenting pada lantai ubin selagi si kucing menggapai butiran di pinggir. Akhirnya roti habis, lidah ungunya mengembara ke setiap titik yang belum terjilat sampai piring mengkilat seperti marmer poles. Dia pun duduk dan memunggungi Severn dengan santai, memulai bersih-bersih.

“Teruskan,” kata Severn, tertarik, “kau perlu itu.”

Si kucing meratakan satu telinga, tapi tidak berbalik atau berhenti bersolek. Seiring debunya lambat-laun terhapus, Severn mengamati ternyata alam menakdirkannya sebagai kucing putih. Bulunya hilang berpetak-petak, akibat penyakit atau resiko perang, ekornya menampakkan tulang, punggung­nya tajam. Tapi pesona yang dimilikinya menjadi tampak oleh jilatan giat. Severn menunggunya selesai sebelum membuka obrolan kembali. Ketika si kucing akhirnya memejamkan mata dan melipat cakar depan di bawah dada, Severn mengawali lagi dengan sangat lembut: “Puss, coba ceritakan masalahmu.”

Mendengar suaranya si kucing tiba-tiba bergemuruh. Severn menganggapnya sebagai usaha mendengkur. Dia membungkuk untuk menggosok-gosok pipinya. Si kucing mengeong lagi, meongan ramah dan bertanya, yang dia sahut dengan, “Tentu saja, kau sudah jauh lebih baik, dan begitu bulumu pulih kau akan jadi gadis jelita.” Tersanjung hebat, dia berdiri dan berputar-putar di sekitar kakinya, menyelipkan kepalanya dan membuat komentar girang, yang ditanggapi santun oleh Severn.

“Nah, apa yang membuatmu kemari,” ujarnya, “ke Jalan Empat Angin ini, naik lima tanjakan ke pintu di mana kau akan disambut? Apa yang mencegahmu lari saat aku berpaling dari kanvas untuk menjumpai mata kuningmu? Apa kau kucing Latin Quarter sebagaimana aku manusia Latin Quarter? Dan kenapa kau pakai ikat kaos kaki berhiasan bunga dan berwarna mawar di lehermu?” Si kucing naik ke pangkuannya, dan kini duduk mendengkur sementara dia membelai bulu tipisnya.

Judul asli : The Street of the Four Winds ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment