Skip to content
Dalang Kematian – Relift Media

Dalang Kematian

Saat aku meliriknya, dia sedang duduk dalam renungan jahat, tapi sejurus kemudian ada yang menarik perhatiannya. Awalnya dia duduk tegak lalu berputar, dan melihat orang yang sedang mendekatinya, bahkan kini sangat dekat.


Surat-surat yang kupublikasikan ini dikirim oleh seseorang yang mengetahui ketertarikanku pada cerita hantu. Tak ada keraguan mengenai keasliannya. Kertasnya, tintanya, dan seluruh tampilan eksternalnya menunjukkan masa penulisan yang tak bisa disangsikan.

Satu-satunya yang tak jelas adalah identitas penulis. Tanda-tangannya hanya berupa inisial, dan karena tak satupun dari amplop-amplop surat ini yang terawat, nama panggilan korespondennya—seorang saudara lelaki yang sudah menikah—juga sama-sama samar. Kurasa tak perlu pendahuluan panjang-lebar. Untungnya, surat pertama menyediakan semua yang diharapkan.



Robert tersayang. Dengan penyesalan mendalam atas kegembiraan yang kulewatkan, dan untuk alasan yang akan kau sesalkan pula, kutulis surat ini untuk memberi­tahukan bahwa aku tak bisa bergabung denganmu Natal ini, tapi kau akan sependapat denganku bahwa beberapa jam lalu aku menerima sebuah surat dari Bu Hunt di B....., yang isinya kurang-lebih menyebutkan Paman Henry menghilang secara tiba-tiba dan misterius, dan memintaku segera ke sana, untuk ikut mencarinya. Meski aku, ataupun kau, jarang bertemu Paman, kurasa permintaan ini tak bisa dianggap enteng, jadi aku berniat pergi ke B..... menjelang antaran pos sore ini, dan sampai di sana larut malam. Aku takkan pergi ke rumah Kepala Pendeta, tapi menginap di King’s Head. Kau boleh mengalamat­kan surat ke sana. Kulampirkan selembar draf kecil, silakan manfaatkan untuk kepentingan generasi muda. Aku akan menulis surat padamu setiap hari (sekiranya aku tertahan lebih dari satu hari) tentang apa yang terjadi, dan kau boleh yakin, bila urusan ini selesai tepat waktu, aku akan datang ke Manor. Waktuku tinggal beberapa menit lagi. Teriring salam hangat untuk kalian semua, dan banyak penyesalan, percayalah padaku, Saudaramu yang tercinta, W.R.



Robert tersayang. Pertama-tama, belum ada kabar tentang Paman H., dan kurasa sebaiknya kau lupakan rencana—aku tak bilang harapan—“kedatanganku” Natal nanti. Akan tetapi pikiranku bersamamu, dan kudoakan yang terbaik untuk hari pesta itu. Ingatkan keponakan lelaki atau perempuanku agar jangan membelanjakan sedikit uang untuk membelikanku hadiah.

Karena aku sudah sampai di sini, aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu gampang menerima perkara Paman H. Ini. Dari perkataan orang-orang di sini, kusimpulkan kecil harapan­nya bahwa dia masih hidup. Tapi, apakah itu kecelakaan atau kesengajaan, aku tak bisa menilai. Fakta-faktanya begini. Hari Jumat tanggal 19, seperti biasa, sebelum jam lima, dia pergi untuk membaca doa malam di Gereja. Setelah selesai, seorang juru tulis membawakannya pesan. Sebagai tanggapan, dia langsung pergi menjenguk orang sakit di sebuah pondok terpencil, kurang-lebih dua mil jauhnya. Dia datang, lalu memulai perjalanan pulang kira-kira jam setengah tujuh. Inilah terakhir kali keberadaannya diketahui. Masyarakat di sini sangat berdukacita atas kepergiannya. Sudah bertahun-tahun dia di sini, kau pun tahu. Tapi, kau juga tahu, dia bukan orang yang ramah, dan agak keras. Rupanya dia aktif dalam amal kebajikan, sekalipun menyusahkan dirinya sendiri.

Judul asli : The Story of a Disappearance and an Appearance ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, January 2015
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment