Skip to content
Berita Kematian – Relift Media

Berita Kematian

Dia ditemukan terkapar di lantai dekat tombol bel. Jelas dia hendak bangun untuk menyentuhnya. Satu tangan memegang dada, tapi wajahnya tampak damai seolah maut datang terlalu tiba-tiba sehingga tak membuatnya banyak menderita.


“Seorang wanita ingin bertemu Anda, tuan.”

Aku mendongak dan serta-merta terkesan oleh keanggunan dan kecantikan sosok yang diperkenalkan kepadaku.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyaku, berdiri.

Dia memberiku tatapan kekanakan yang sarat kepercayaan dan keterusterangan seraya duduk di kursi yang kutunjuk.

“Kuyakin begitu, kuharap begitu,” dia meyakinkanku sungguh-sungguh. “Aku—aku dalam masalah besar. Aku baru kehilangan suamiku—tapi bukan itu. Ini soal carikan kertas yang kutemukan di lemari riasku, dan yang—yang—”

Dia gemetar keras dan perkataannya jadi tak karuan. Aku menenangkannya dan memintanya menceritakan apa yang terjadi; dan setelah beberapa menit berjuang, dia berhasil menguatkan diri untuk menyahut.

“Aku sudah enam bulan menikah. Namaku Lucy Holmes. Selama beberapa minggu terakhir aku dan suamiku tinggal di sebuah apartemen di Jalan No. 59. Karena kami tak punya kesusahan di dunia ini, kami sangat bahagia sampai Tn. Holmes dipanggil untuk urusan bisnis ke Philadelphia. Itu dua pekan lalu. Lima hari kemudian aku menerima surat penuh kasih sayang darinya, di mana dia berjanji akan pulang keesokan harinya. Kabar tersebut begitu menggembirakan, sehingga aku menerima ajakan salah seorang teman akrab kami untuk pergi ke teater. Keesokan paginya tentu saja aku merasa letih dan terlambat bangun; tapi aku sangat gembira, karena menantikan suamiku pulang pada tengah hari. Dan kemudian tibalah misteri yang membingungkan. Sewaktu berdandan, aku melangkah ke rak pakaianku, dan melihat sebuah carikan koran kecil tercantel pada bantal dengan peniti, aku pun mencabut­nya dan membaca. Itu berita kematian. Rambutku berdiri dan tungkaiku lemas saat aku mencerna kata-kata genting dan sulit dipercaya.

“‘Telah wafat hari ini di Colonnade, James Forsythe De Witt Holmes. Baca koran New York.’

“James Forsythe De Witt Holmes adalah suamiku, dan surat terakhirnya, yang saat itu tergeletak di samping bantal, dibubuhi tanggal dari Colonnade. Apa aku sedang bermimpi atau dipengaruhi suatu halusinasi menakutkan yang membuat­ku salah membaca nama pada carikan kertas di hadapanku? Aku tak bisa menentukan. Kepalaku, tenggorokanku, dan dadaku serasa terbelenggu besi, aku tak bisa berbicara atau bernafas dengan bebas. Seraya merasakan penderitaan, aku berdiri memelototi kertas jahat ini yang seketika membawa bayangan kematian pada hidupku yang bahagia. Aku juga tidak merasa lega ketika tak lama kemudian aku membawanya ke kamar apartemen tetangga. Setelah memohon kepadanya agar membacakan untukku, mataku ternyata tidak berbohong dan nama itu memang nama suamiku dan itu memang berita kematian.

“Datang usulan menghibur, bukan dari pikiranku sendiri tapi dari tetanggaku.

“‘Mungkin bukan suamimu yang dimaksud,’ katanya, ‘tapi seseorang bernama sama. Suamimu mengirim surat padamu kemarin, dan orang ini pasti meninggal sekurangnya dua hari lalu sebelum cetakan berita kematiannya sampai ke New York. Ada orang yang memperhatikan kemiripan nama, dan ingin membuatmu kaget, kemudian merobeknya dan menyematkan­nya di bantalmu.’

“Tentu saja sekenalku tak ada siapapun yang cukup tega berbuat ini, tapi penjelasannya begitu masuk akal. Aku pun menerimanya dan terisak lega. Tapi di tengah kegiranganku, aku dengar bel di apartemenku berbunyi. Aku segera lari ke sana dan menjumpai seorang bocah pengantar telegram sedang memegang amplop kuning yang sering menandakan kematian atau musibah. Pemandangan itu membuatku termangu. Setelah memanggil pembantuku, yang kulihat bergegas ke arahku dari ruang dalam, aku memintanya membukakan telegram. Tuan, aku melihat di wajahnya, sebelum dia membaca baris pertama, konfirmasi kekhawatiran terburukku. Suamiku—”

Judul asli : A Difficult Problem ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment