Skip to content
Kamar Raib – Relift Media

Kamar Raib

Betapa dingin mata kelabu mereka! Tak ada yang bisa dibaca di dalamnya. Sepertinya aku sudah menghancurkan hati ibuku, hal aneh ini. Berkali-kali, musim panas itu, di tengah malam, aku melihatnya bangun dan membawa lilin.


“Mana cocok untuk ruang merokok?”

“Sangat cocok, hanya saja, kau tahu, Roger, jangan pernah berpikir untuk merokok dalam rumah. Aku khawatir keber­adaan orang lain akan membuat Bibi Hannah marah, apalagi merokok. Dia orang New England—Vermont New England.”

“Serahkan saja urusan Bibi Hannah padaku: aku akan cari sisi lembutnya. Akan kutanyakan soal nakhoda tua dan belacu kuning itu.”

“Bukan belacu kuning—cita biru.”

Well, kalau begitu ngengat kuning.”

“Tidak, tidak! Jangan campuradukkan; kau takkan tahu, dan itu setengah menyenangkan.”

“Nah, ceritakan lagi apa yang harus kuketahui. Terus-terang aku tidak mendengarnya tempo hari; aku sedang melamun. Kejadian aneh sewaktu kau kecil, bukan?”

“Sesuatu yang mulai terjadi jauh sebelum itu, dan terus terjadi, dan mungkin akan terjadi lagi, tapi kuharap tidak.”

“Apa itu?”

“Apa orang lain dalam gerbong bisa mendengar kita?”

“Kurasa tidak; kita tak mendengar mereka—setidaknya tidak berurutan.”

Well, ibu lahir di Vermont, kau tahu; dia anak tunggal dari pernikahan kedua. Bibi Hannah dan Bibi Maria hanyalah setengah bibi bagiku.”

“Kuharap mereka setengah menyenangkan sepertimu.”

“Jangan keras-keras, Roger, mereka akan dengar kita.”

Well, kau tak ingin mereka tahu kita sudah menikah?”

“Ya, tapi bukan hanya menikah. Ada banyak perbedaan di dunia ini.”

“Kau takut kita terlalu tampak bahagia!”

“Tidak, aku cuma ingin kebahagiaanku sendiri.”

Well, soal kamar kecil itu?”

“Bibi-bibiku mengasuh ibu; mereka hampir dua puluh tahun lebih tua darinya. Bersama Hiram, mereka mengasuhnya. Hiram sangat dekat dengan kakek sewaktu kecil, dan setelah kakek meninggal, dia bilang ingin meneruskan pertanian, peternakan, dan tetap di sana sejak saat itu. Dia satu-satunya tempat mengungsi ibuku dari adat sopan-santun bibi-bibiku. Mereka pekerja. Mereka membuatku membayangkan wanita Maine yang ingin batu nisannya bertuliskan, ‘Dia wanita pekerja keras.’”

“Mereka pasti hampir melampaui usia kerja. Berapa umur mereka?”

“Kurang-lebih tujuh puluh, tapi mereka tegar; atau setidak­nya pada Sabtu malam, setelah semua pekerjaan rumah selesai. Mereka agak keras pada ibu, dan kurasa dia punya masa kecil yang kesepian. Jarak rumah dari tetangga hampir satu mil, dan berada di puncak Stony Hill. Di atas sana cukup suram di musim panas.

“Saat mama berumur sepuluh tahunan, mereka mengirim­nya ke saudara-saudara sepupu di Brooklyn, yang sudah punya anak-anak sendiri, dan lebih mengasuh anak mereka. Dia tinggal di sana sampai menikah; dia tak pernah pulang ke Vermont selama masa itu, dan tentu saja lama tidak berjumpa dengan kakak-kakaknya, sebab mereka tak pernah mau meninggalkan rumah seharipun. Mereka bahkan tak bisa dirayu untuk pergi ke pernikahannya di Brooklyn. Jadi ibu dan ayah mengadakan perjalanan bulan madu ke sana.”

“Dan itulah sebabnya kita pergi ke sana sekarang?”

“Roger, tak sadarkah kau betapa kerasnya suaramu.”

“Kau tak pernah bilang begitu kecuali saat aku mengucap­kan satu kata kecil itu.”

Well, jangan ucapkan, kalau mau pelan-pelan.”

Well, jadi apa kejadian anehnya?”

Judul asli : The Little Room ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment