
Penyakit ini, yang akan kita namakan Koreomania, seperti kubilang mulanya disebut korea, atau joget Santo Vitus; tapi istilah-istilah ini kini diterapkan, secara tak terpisahkan tapi tak tepat, pada satu penyakit syaraf lain dan benar-benar berbeda.
Di antara epidemi-epidemi Zaman Pertengahan, salah satu yang paling ganjil, dan bagi psikolog salah satu yang paling menarik, adalah mania joget/tari yang selama sekurangnya dua setengah abad muncul pada selang waktu tak beraturan di berbagai wilayah Eropa. Itu mendapat nama-nama berbeda di negara-negara berbeda. Di seantero Eropa Barat, itu disebut korea, korea Sancti Viti, koreademonomania, joget iblis, atau joget St. Yohanes; sementara di Italia, di masa lebih modern, itu dikenal sebagai tarantisme. Penyakit yang sama telah teramati di Etiopia sekitar permulaan abad ini, di mana itu disebut tigretier.
Aku tak bermaksud memberi keterangan lengkap penyakit ini dalam berbagai epideminya, tapi sekadar menggoreskan beberapa ciri historis utamanya, sebab tanpa berkenalan dengan sejarahnya, narasi tentang apa yang teramati di Madagaskar berikut ini akan dipahami secara tak sempurna. Penyakit ini, yang akan kita namakan Koreomania, seperti kubilang mulanya disebut korea, atau joget Santo Vitus; tapi istilah-istilah ini kini diterapkan, secara tak terpisahkan tapi tak tepat, pada satu penyakit syaraf lain dan benar-benar berbeda. Dari perubahan nama ini, bersama hilangnya korea asli dari Eropa, timbul ketertukaran besar. Tak sedikit pengarang menganggap deskripsi koreomania oleh para penulis lama berlaku pada korea modern, dan berhubung deskripsi-deskripsi ini sepenuhnya tak konsisten dengan pengalaman sehari-hari kita dengan penyakit korea modern, mereka menganggap keterangan epidemi-epidemi koreomania pada Zaman Pertengahan sebagai berlebihan dan tak dapat dipercaya. Singgungan singkat yang Mason Good buat tentang penyakit asli dalam karya klasiknya mengindikasikan dia sudah jatuh ke dalam kekeliruan ini. Demikian pula, pangerannya dokter-dokter modern, Joseph Frank, yang meneruskan asumsi bahwa koreomania identik dengan korea, berkata, “Mereka yang menganggap bahwa pada 1374 korea menjadi epidemi, jelas-jelas gagal membedakan itu dengan penyakit sereal (ergotisme). Padahal, kenyataannya korea tidak menampakkan diri secara umum dalam bentuk epidemi, melainkan selalu sporadis, dengan beberapa pengecualian.” Nah, mungkin saja salah satu bentuk ergotisme cenderung keliru dikira sebagai korea-nya para nosologis modern; itu tidak mungkin tertukar dengan koreomania, yang tidak memiliki kesamaan dengannya. Namun, cukuplah dikatakan tidak ada yang berpendapat bahwa penyakit yang disebutkan oleh Joseph Frank menjadi epidemi pada 1374. Dalam salah satu buku teks terbaru dan tak diragukan lagi terbaik mengenai pengobatan, karangan Dr. Aitken, terdapat ketertukaran yang sama. Membahas korea, dia menulis sebagai berikut: “Di Jerman, konon selama dua abad telah terjadi epidemi, dan para pasien, barangkali banyak dari mereka maniak, biasa bergabung dalam joget-joget kalut; dan seakhirnya 1673, mereka berarak-arakan ke gereja seorang santo favorit; St. Yohanes, St. Guy, dan St. Vitus adalah yang paling terkenal.” Nah, korea-nya para nosolog modern tak pernah dikatakan epidemi; yang epidemi adalah jelas-jelas sebuah penyakit berbeda sama sekali.
Sir Thomas Watson melampirkan pada lektur korea-nya sebuah pernyataan singkat mengenai penyakit asli itu, yang membuktikan dia mengenali karakter sejatinya. “Nama itu,” komentarnya tepat, “diterapkan, dan jauh lebih cocok, pada sekumpulan gejala lain yang paling ganjil, menyangkut kejadian riil yang bakal kita ragukan andai kita tidak punya cerita otentik tentang banyak contoh penyakit tersebut dari bermacam-macam orang-orang terpercaya, di negara ini dan juga negara-negara lain. Sebuah penyakit yang dicirikan oleh gerakan-gerakan yang tidak bisa disebut spasmodik, tapi lebih karena kecenderungan tak tertahankan pada aksi otot, kadang dinaikkan ke semacam mania oleh kekuatan peniruan atau oleh suara musik. Dalam hal ini, volisi yang mengerikan atau menyimpang.” Yang memperburuk ketertukaran ini, beberapa pengarang menggolongkan dengan koreomania banyak bentuk manifestasi syaraf anomali, yang sebagiannya jelas-jelas merupakan hasil dari penyakit organik pusat-pusat syaraf. Begitulah kasus-kasus yang dicatat oleh Sagar dan lain-lain, kasus-kasus para pasien yang hanya bisa maju atau mundur, atau penyakit-penyakit ganjil yang dideskripsikan sebagai rotatio dan malleatio.
Tak diragukan lagi koreomania berbeda dari korea spasmodik di satu sisi, dan dari bentuk-bentuk ganjil gerakan menyimpang ini di sisi lain. Beragam epidemi telah dideskripsikan secara mengagumkan oleh Hecker, yang karyanya dapat dirujuk oleh orang-orang yang butuh informasi, dan yang di dalamnya orang-orang penasaran akan menemukan rujukan dan kutipan dari sumber-sumber asli mengenai hal ini. Beberapa informasi menarik juga dapat dijumpai dalam History of Epidemic Diseases-nya Hæser.
Koreomania dapat didefinisikan sebagai penyakit psiko-fisik, di mana kehendak, kemampuan intelektual, dan perasaan moral kurang-lebih menyimpang, dengan dorongan tak tertahankan untuk bergerak, dan kecintaan gila pada musik, seringkali sporadis, tapi dengan tendensi untuk menjadi epidemi dalam keadaan tertentu.
Judul asli | : | Choreomania: An Historical Sketch (1867) |
Pengarang | : | Andrew Davidson |
Penerbit | : | Relift Media, Februari 2023 |
Genre | : | Sejarah |
Kategori | : | Non-Fiksi, Esai |