Skip to content
Ketika Redaktur Arab Mengamati Jepang dan AS – Relift Media

Bacaan non-fiksi politik Ketika Redaktur Arab Mengamati Jepang dan AS

Dia telah berbalik dari peradaban materialistik, yang sudah dia adopsi tapi yang di dalamnya dia tidak merasa nyaman, ke sebuah peradaban mundur yang menyisakan beberapa sisa saja, yang olehnya dia merasa terhibur tapi yang tetap dia nikmati sepenuhnya.



Artikel terjemahan yang disajikan di sini tampaknya diadaptasi secara khusus untuk kegunaan New Orient Society dan untuk kebutuhan dan kepentingan para anggo­tanya.

Di satu sisi, itu secara cakap dan gamblang mengupas masalah Timur Jauh saat ini, Jepang dan hubungannya dengan kita dan sebaliknya. Pengarangnya bukan orang Amerika, tapi jelas-jelas seorang pengamat yang berminat dan berpengetahuan. Ini memberi kita kesempatan, di salah satu titik tersulit dalam hubungan luar negeri kita, untuk melihat diri kita sebagaimana orang lain melihat kita. Namun, mungkin terlalu berlebihan untuk mengatakan itu, karena kita tidak menjamin data miliknya ataupun pan­dangan-pandangannya, kecuali bila kita bisa menjamin ke­mampuan dan keandalannya secara umum. Intinya, di sini kita bisa menemukan bagaimana orang lain melihat kita dalam hubungan dan urusan kita dengan Jepang modern.

Poin penting kedua terkait esai terjemahan ini adalah bahwa si pengarang, jika bukan orang Asia Barat dalam pe­ngertian persis, sudah pasti orang kenamaan di Timur Dekat masa kini. Dia tidak menyebutkan namanya, tapi dari tempat dan gaya artikelnya, kita bisa segera mengidentifikasinya se­bagai Fuad Sarruf, redaktur majalah besar Arab Al-Muktataf.

Ini memberi pencerahan untuk para anggota kita dan pembaca lainnya tentang fase kehidupan dan kesusasteraan modern di Timur Dekat yang kurang diketahui dan banyak disalahpahami. Kecuali segelintir spesialis, orang Amerika berpendidikan dalam perjalanan-perjalanannya di Timur Dekat bersinggungan dengan para dragoman, kebanyakan bukan kelas yang terlalu tinggi sampai belakangan ini; dengan para wiraniaga baju kampungan yang dibuat di tiap tempat untuk wisatawan; dengan pasar-pasar pribumi yang sebagian besar dipelihara untuk wisatawan; dengan tem­pat-tempat curang, makhluk-makhluk curang, transaksi-transaksi curang, dan perbuatan-perbuatan curang yang membentuk jala untuk menjebak orang asing lengah dalam situasi-situasi pribumi yang diduga sungguhan di seluruh dunia. Dengan sastrawan, ilmuwan, pebisnis, pegawai peme­rintahan Arab kelas tinggi, si pelancong plesir jarang ber­urusan.

Dalam kontroversi Yahudi-Arab yang terakhir, porsi lumayan dari bobot dan volume besar pernyataan argumen Yahudi diutarakan sedemikian rupa sehingga dunia Barat menerima kesan bahwa hanya ada dua jenis orang Arab, para nomaden seperti “Indian merah” dan para “effendi lunglai” yang menindas budak-budak pengolah tanah. Ada orang-orang Yahudi kelas tinggi (para Zionis) dan orang-orang lain yang mengetahui, mengatakan, dan menulis hal-hal agak lain. Bukan suara orang-orang terakhir ini, melainkan orang-orang pertama (Zionis), suara propagandis, yang mempene­trasi dan memenuhi pers Barat, dan untuk melawan ini orang-orang Arab, yang kurang tersebar luas, kurang ter­organisir, kurang biasa dengan metode periklanan, dan barangkali kurang dilengkapi sarana, tidak memiliki peng­imbang.

Oleh sebab itu pandangan dan opini Amerika tentang dunia Arab lebih keliru dan terdistorsi lagi daripada yang di­tunjukkan oleh si redaktur Arab perihal tatakrama dan adat­istiadat Jepang. Artikel kecil kita ini tidak bisa meralat semua itu. Namun, itu bisa membuat ralat parsial dan mengarahkan pikiran kita menuju kebutuhan pengetahuan yang lebih besar dan lebih sehat.

Majalah berkala merupakan fenomena terbilang modern. Keluaran majalah suatu kaum adalah salah satu indikator dari level peradaban, demikian kita orang-orang Modern Barat menyebutnya. Diukur dengan meteran ini, dunia modern Arab mungkin bukan pelopor peradaban, tak seperti di zaman Pertengahan, tapi mereka tidak terlalu tertinggal jauh. Jumlah jurnal-jurnalnya lebih sedikit daripada yang terlihat di kios koran Amerika, tapi sebagian besar variasi ada di situ, bahkan komik. Dan dalam hal kualitas, majalah Arab sama sekali tidak rendah.

Kisah lengkap jurnal-jurnal Arab tidak bisa disampaikan di sini; sejarah jurnalisme Arab setebal tiga volume—dalam bahasa Arab—sedang dalam proses penerbitan. Kita puaskan diri kita dan barangkali pembaca kita di sini dengan menun­jukkan tiga contoh terkemuka.

Bagi banyak pembaca kita, kejutan besar pertama adalah bahwa yang kesatu dari contoh-contoh ini hadir di dalam gerbang-gerbang kita, di Amerika sendiri. Dari ketiga jurnal sastra yang diuraikan secara ringkas di sini, itu merupakan yang paling muda dan paling kurang awet, tapi berpengaruh lumayan dalam menciptakan dan meluncurkan kesusastera­an Arab yang baru dan modern berupa esai, cerita pendek, novel, dan drama, di samping syair liris. Didirikan pada 1913, terbitan pertama Al-Funoon (The Arts) hadir di New York pada April tahun itu. Dua tokoh utama sastra Arab modern, Khalil Gibran dan Ameen Rihani, dua-duanya dikenal di dunia sastra Inggris Amerika, menjadi kontributor untuk terbitan ini dan dua-duanya terus berkontribusi secara gratis nyaris sampai akhir. Terjemahan-terjemahan dari bahasa Rusia dan bahasa-bahasa lain menempati lebih banyak ruang mula-mulanya daripada belakangan. Pada 1916, jurnal tersebut mengamankan gaya Rusia-nya sendiri dalam ba­hasa Arab pada sosok Michael Naimy, yang karyanya dalam bahasa Inggris dan dalam terjemahan dari contoh-contoh bahasa Arab telah ditampilkan dalam Open Court Agustus 1932 halaman 551-563; lihat The New Orient, A Series of Monographs on Oriental Culture, Vol. I, The Near East, hal. 313-324. Karir gelisah dan berbadai tapi tidak hina ataupun percuma dari majalah Amerika berbahasa Arab ini berakhir pada Agustus 1918, tepat ketika mimpi kebebasan dan persa­tuan Arab di tanah-tanah air mereka meledak terang seperti meteor hanya untuk menyusut segera dalam kubangan tahun-tahun pasca perang ini menuju masa depan suram dan tak pasti.

Majalah besar berbahasa Arab kedua yang ingin kuper­kenalkan kepada anggota New Orient Society dan pembaca sastra kita disebut Hilal (Crescent). Itu didirikan pada 1892 oleh tokoh Suriah-Mesir, Jirji Zaydan, yang boleh dibilang Sir Walter Scott-nya Arab; karya terbaiknya di antara novel-novel sejarah karangannya kini bahkan sedang diterjemah­kan ke dalam bahasa Inggris oleh Ny. Florence Lowden Miller di Chicago. Tanpa subsidi jenis apapun, baik dari pemerintah ataupun swasta, Hilal telah tumbuh subur tanpa henti, dan sekarang, di tahun ke-43-nya, masih mendatangkan peng­hidupan yang nyaman untuk para pemiliknya, dua ketu­runan dari sang pendiri. Itu sebanding di Amerika dengan Harpers, di samping Reader’s Digest dan Popular Science. Ter­bitan untuk Januari 1935 memuat artikel-artikel: “Precocious Genius” oleh Mohammed Fareed Wajdi; “Literature and the Legal Profession” oleh jenius besar tunanetra, Taha Hussain; “Art and Artists” dalam konsepsi modern oleh redaktur hari­an besar Kairo Siyasa, Dr. Mohammed Husain Haikal; di bawah judul halaman “Problems of the Present Age”, sebuah artikel “Marriage” oleh Ahmed Ameen; “Cradle Songs among the Arabs” oleh Doktor Ahmed Bey Isa; cerpen bagus “The Pariah” oleh Mohammed Auda Mohammed; “The Philosophy of Names” oleh Ameen Boctor; dua laporan mengenai mosaik Bizantium dan Yunani-Romawi baru yang ditemukan di Betlehem dan Beirut; dan selusin lebih artikel lain yang serupa, informatif, dan ditulis apik. Pembaca Amerika akan tertarik untuk mengetahui tentang sebuah seksi yang di­sebut The Magazine of Magazines yang menampilkan intisari artikel-artikel dari delapan jurnal luar negeri, di antaranya Esquire, New York Times, Harpers, Parents’ Magazine, dan Reader’s Digest kita. Ulasan bergambar melukiskan di antara­nya sebuah mobil berbahan bakar air baru dan telur terbesar di dunia, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar muka. Sebuah initisari saintifik, resensi buku, dan kotak pertanyaan dan jawaban untuk pembaca menutup terbitan tersebut.

Majalah besar berbahasa Arab ketiga, yang diterbitkan seperti Hilal di pusat penerbitan Arab terbesar di dunia, Kairo, adalah majalah yang darinya kita mengambil artikel kita, Al-Muktataf (The Elite). Didirikan pada 1876, kini itu sudah mencapai volume ke-86 dan menjadi kuat. Itu me­namakan dirinya “Majalah Bulanan Sains dan Sastra Terkini Berbahasa Arab”. Kualitas artikel-artikelnya sebanding dengan Atlantic Monthly dan Scientific American, tanpa kalah prestise dari keduanya. Terbitan teranyar yang ada di depan kami selagi kami menulis, Januari 1935, mengupas secara cerdas dan jelas penemuan hidrogen berat dan hadiah Nobelnya; perpustakaan Alexandria dan mazhabnya; Piran­dello dan Tragedi-tragedinya oleh pengarang wanita ter­kenal, al-Anisah Mayy, yang membuka seri bulanan studi sastra; Minot dan rekan-rekannya menaklukkan anemia jahat melalui liver dan sari-sari darinya; pertandingan dan olahraga atletik di kalangan bangsa Mesir kuno; Krete Kuno: apakah ia fabel Atlantis?; sains dan persenjataan, sebuah intisari dari jurnal Amerika Popular Science; psikologi modern (artinya Freud); seksi peristiwa mutakhir dalam terbitan ini mengulas Jepang dan kebijakan Asiatiknya, Italia modern, dan Kapten Anthony Eden; artikel menonjol di seksi wanita adalah sebuah saduran dari sebuah buku baru ber­bahasa Arab mengenai metode pendidikan modern, yang, sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah resensi hebat, me­nampilkan dengan jelas sistem Montessori, sistem Decroly, sistem Dalton, dan sistem Gary, beserta rencana proyek; seksi puisi memasukkan seleksi berbahasa Arab dari Edna St. Vincent Millay, Alfonse de Lamartine, dan Tennyson; seksi esai umum memuat gambaran bagus seorang pebisnis ter­kemuka Mesir dan diskusi pemakaian bahasa Arab modern. Akan sulit menemukan majalah lima dolar di Amerika atau Inggris yang dalam sebulan menawarkan seleksi lebih kaya atau kelas lebih tinggi.

Dari terbitan November 1934 dari majalah ketiga ini diambil artikel terjemahan berikut ini. Pengarang artikel, Fuad Sarruf, adalah orang penting di dunia Arab, sebanding dengan John H. Finley dari New York Times, Glenn Frank, atau Smart Chase di Amerika. Sungguh menarik melihat simpati Asiatiknya kepada Jepang berlomba-lomba dengan kepen­tingan simpatik Timur Dekat-nya terhadap Amerika. Per­paduan aneh dan menarik dalam pikiran Timur Dekat ini bermula dari sekurangnya tahun-tahun pertama Perang Dunia. Pada 1915 atau 1916, si penulis diberi sebuah kliping dari sebuah suratkabar Arab, yang memuji-muji—sebagai model ideal untuk Arab Mesir yang masih muda—di satu sisi Westernisasi dan modernisasi Jepang, terutama angkatan daratnya, armada niaganya, dan armada perangnya, dan di sisi lain kursus-kursus di Correspondence School Universitas Chicago dan Alexander Hamilton Institute.

Pada saat Konferensi Perdamaian Versailles, sebuah Komite Investigasi Amerika yang unggul dan berkelengkap­an cukup, yang hasil-hasilnya diterbitkan terlambat dan kini hampir dilupakan, menemukan sebuah kecintaan dan kesu­kaan universal di seluruh Timur Dekat terhadap manajemen Amerika. Prestise dan kebersahabatan penuh terimakasih ini jelas-jelas masih eksis di sana. Dalam tahap ini, selagi Timur Dekat berjuang untuk bangkit seperti Jepang lima puluh atau tujuh puluh tahun lalu, sudah sepantasnya Amerika, selain Kekaisaran Britania, menyoroti dengan apresiasi semestinya sektor dunia yang satu ini dan kebersahabatan tulusnya kepada kita, dan berbuat semampu kita untuk tidak menga­baikan dan membuang tapi melestarikan dan mengembang­kan karunia para dewa ini di sebuah dunia yang kacau-balau.

Dengan rekomendasi ini kami persilakan Fuad Sarruf untuk menyapa kita.

Judul asli : An Arab Editor Surveys Japan and Us ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Desember 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Ketika Redaktur Arab Mengamati Jepang dan AS

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)