Skip to content
Pengaruh Buddhisme Terhadap Kristen Primitif – Relift Media

Bacaan non-fiksi religi Pengaruh Buddhisme Terhadap Kristen Primitif

Dua kali Buddhisme menginvasi Barat, sekali saat kelahiran Kristen dan sekali ketika para Templar membawa pulang Kabalisme, Sufisme, dan Freemasonry dari Palestina.



Sebuah jilid yang membuktikan bahwa banyak dari isi Perjanjian Baru adalah tamsil ketimbang sejarah akan membuat syok banyak pembaca, tapi dari zaman Origen dan Clement dari Alexandria hingga zaman Swedenberg, hal yang sama telah ditegaskan. Bukti bahwa tulisan amsal ini diambil dari sebuah agama terdahulu akan membuat syok lebih banyak lagi. Penulis biografi Kristus memiliki satu tugas tunggal, yaitu menerbitkan Yesus historis aktual. Di dalam Perjanjian Baru ada dua Kristus, Kristus Eseni dan Kristus anti-Eseni, dan semua penulis biografi modern yang ber­usaha memadukan keduanya telah gagal sebagaimana mes­tinya. Buku ini berpendapat bahwa Kristus adalah biarawan Eseni, bahwa Kristen adalah Esenisme, dan bahwa Esenisme, seperti pendapat Dean Mansel, adalah hasil dari para misio­naris Buddhis “yang mengunjungi Mesir dua generasi sesu­dah masa Alexander Agung”.

Reformasi, dalam pandangan Macaulay, adalah pergulat­an orang awam versus biarawan. Alhasil, banyak orang Pro­testan budiman tergoncang mendengar istilah tersebut di­terapkan pada pendiri kredo mereka. Tapi di sini aku harus menunjukkan satu fakta. Di biara-biara Eseni, sebagaimana di biara-biara Buddhis, tidak ada sumpah hidup. Ini menjadi­kan biara lebih sebagai sekolah untuk inisiasi spiritual ke­timbang sebuah karir. Di biara-biara modern, St. Yohanes Salib bisa bermimpi manis tentang Tuhan di satu sel, dan tetangga sebelahnya bisa saja Friar Tuck, tapi bagi keduanya biara adalah sebuah penjara. Ini mengubah corak persoalan selibasi, dan begitu pula fakta bahwa umat Kristen ber­tempur hebat dengan kependetaan/imamat.

Sang Anak Manusia iri dengan keamanan celah-celah “rubah”. Dia menyebut lawan-lawannya “serigala”. Jemaahnya pasca kematiannya menjumpai pintu-pintu tertutup karena takut terhadap kaum Yahudi. “Injil murni,” kata Clementine Homilies (bab. ii. 17), “dikirim diam-diam ke luar negeri” setelah dipindahkan ke Pella. Sekte baru tersebut, bukan sebagai Kristen tapi sebagai Eseni, disiksa, dibunuh, diburu. “Dua jas”, “isteri-isteri”, perayaan anggur setiap hari tidak mungkin cocok dengan mereka.

Dua kali Buddhisme menginvasi Barat, sekali saat ke­lahiran Kristen dan sekali ketika para Templar membawa pulang Kabalisme, Sufisme, dan Freemasonry dari Palestina. Dan para misionaris tekun kita di Sri Lanka dan tempat lain, dengan menerjemahkan buku-buku Buddhis secara aktif guna menyangkal mereka, telah menghasilkan akibat yang sedikit mengejutkan. Sekali lagi Buddhisme sedang maju dengan langkah-langkah raksasa. Jerman, Amerika, Inggris diserbu olehnya. M. Léon de Rosny, profesor dari Sorbonne, mengumumkan, di Paris terdapat sekurangnya 30.000 Buddhis. Sebuah pergata Prancis pulang dari China tempo hari dengan sepertiga awaknya berpindah agama menjadi Buddhis. Schopenhauer mengakui mendapatkan filosofinya, yang kini membanjiri Jerman, dari membaca buku-buku Buddhis terjemahan Inggris. Bahkan omong-kosong Mada­me Blavatsky mengandung sedikit Buddhisme tulen di dasarnya, yang memberinya umur singkat.

Agama-agama bumi sama dengan pertikaian dan seruan partisan, simbol partisan, gestur partisan, baju partisan. Tapi seiring pendaki pemberani mendaki gunung curam yang sejuk, kutukan para pendeta terdengar sayup-sayup, dan katedral-katedral terbesar bertambah redup, di wilayah murni di mana Wesley dan Fenelon, Mirza sang Sufi dan Swedenberg, Spinoza dan Amiel, bisa berjabat tangan. Jika studi baru Buddhisme ini menunjukkan bahwa kedua Guru agung dunia mengajarkan doktrin yang hampir sama, kita jelas-jelas untung dan bukan rugi. Agama tersebut adalah agama individu, berbeda dari agama buatan badan hukum.




Dalam Revue des Deux Mondes, 15 Juli 1888, M. Émile Burnouf menulis artikel berjudul “Le Bouddhisme en Occident”.

M. Burnouf berpandangan bahwa Kristen Konsili Nicea adalah hasil dari konflik antara Arya dan Semit, antara Buddhisme dan Musaisme:

“Kian hari kian jelas sejarah dan perbandingan mitologi mengajarkan bahwa kredo-kredo tumbuh secara perlahan. Tidak ada yang datang ke dunia dalam bentuk sudah jadi, dan seolah disulap. Asal-muasal peristiwa-peristiwa lenyap dalam ketakterhinggaan. Seorang pujangga besar India me­ngatakan, “Awal hal-hal menghindar dari kita; akhir mereka juga menghindar dari kita. Kita melihat tengahnya saja.”

Judul asli : Preface, Introductory, Rites ()
Pengarang : Arthur Lillie
Penerbit : Relift Media, Agustus 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Pengaruh Buddhisme Terhadap Kristen Primitif

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)