Skip to content
Pembajak Tanah – Relift Media

Cerita fiksi filsafat Pembajak Tanah

Eksistensi desa itu bisa dikenali hanya dengan indera pendengaran dan penciuman. Angin, angin dingin malam, yang berkarat di rumput kering dan mengurai rambut uban panjang si pembajak renta, membawa suara-suara dan aroma-aroma dari hunian-hunian manusia yang terasing.



Pemandangan yang sedang kulihat mirip salah satu dari sketsa-sketsa abadi karya Holbein. Sebuah sketsa yang membentuk inti daur, “Tarian Kematian”, menggambarkan seorang penduduk desa tua renta yang sedang membajak tanah keras di saat matahari terbenam, sementara kematian mendesak kudanya. Orang desa yang kulihat dan bajaknya juga sedang berusaha keras sepanjang tanah liat, dan di atas mereka utusan pembinasaan tak kasat mata tampak sedang merayap... Hanya saja lanskapnya berbeda. Dalam lukisan Holbein kita melihat gugus-gugus pohon teduh, atap-atap hunian tak terhitung, jalan-jalan kuda yang indah, menara sebuah gereja batu, dan, di kaki langit, garis lekuk sebuah bukit barisan. Alam selatan yang kaya, sarat keanekaragam­an dan kekhidmatan. Matahari terbenamnya indah dan bias-biasnya memanjang berbentuk kipas di atas ufuk, mengirim sorot-sorot mereka melewati gunung-gunung dan pohon-pohon.

Tapi dataran Mazuria menjemukan dan membosankan. Tanahnya, seolah terdiri dari ombak-ombak yang tumpah ke mana-mana dan agak berkerut, menghampar dalam massa bongkahan kelabu tak berbatas ke garis terjauh cakrawala. Sebidang hutan sempit berwarna merah tua di kejauhan membelahnya dari cakrawala yang juga kelabu dan hanya di satu titik, dekat di atas hutan, sedikit bernada kuning. Nada kuning itu adalah tanda bahwa di suatu tempat nun di sana di balik tirai abu awan-gemawan, matahari sedang melayu. Warna lukisan itu begitu tipis sehingga bisa saja seluruhnya dicat, termasuk pak tua yang sedang membajak dan sepa­sang kuda kurus miliknya, dengan tinta India atau sepia—dalam gaya aquatin kuno itu, yang di atasnya alam digambar­kan tanpa warna, seolah dilihat melalui sekeping kaca meng­hitam. Tanahnya, sejauh mata memandang, terpotong men­jadi bidang-bidang, dan lajur-lajur ini, yang zig-zag di sana-sini, memanjang ke berbagai arah, padahal ladang-ladang­nya berbeda dari satu sama lain. Ada yang hitam legam, ada yang merah kecoklatan, ada yang menerang ke dalam warna kelabu pucat, menyiratkan kesan bahwa ke dalam tinta India-nya sang pelukis telah menuangkan semakin banyak air. Di sana-sini berdiri, seolah waspada, sebatang pohon pir liar, terpencil, berduka, bisu. Di sana-sini tanahnya sedikit ber­lubang, dan di dalam lubang itu, yang jelas-jelas lembab, tumbuh pohon-pohon alder dengan daun berkilauan. Petak-petak terbesar dari padang hijau itu dibentuk oleh beberapa limau dan poplar, yang berfungsi sebagai tabir di mana di belakangnya desa itu tersembunyi.

Eksistensi desa itu bisa dikenali hanya dengan indera pendengaran dan penciuman. Angin, angin dingin malam, yang berkarat di rumput kering dan mengurai rambut uban panjang si pembajak renta, membawa suara-suara dan aroma-aroma dari hunian-hunian manusia yang terasing. Bisa terdengar dengungan membosankan bass-viol yang sedang dimainkan di kedai, dan “Ho” yang meledak tiba-tiba dari tenggorokan seorang buruh tani agak mabuk. Bisa ter­cium aroma tajam rapeseed panggang dan bau kopi me­nusuk, yang sedang dipanggang di dapur rumah pendeta.

Judul asli : The Ploughman
Oracz
()
Pengarang : Wiktor Teofil Gomulicki
Penerbit : Relift Media, Mei 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Pembajak Tanah

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)