Skip to content
No. 212 – Relift Media

No. 212

Aku penasaran apakah pria di No. 212 juga datang kemari untuk istirahat. Dia pucat sekali. Tapi aku tak percaya dia sakit, sebab kepucatannya bukan raut sakit, tapi justru sehat dalam kejernihan warna gadingnya.



Aku belum bertemu pria di No. 212 itu. Aku bahkan tak tahu namanya. Dia tak pernah ke restoran hotel, dan dia tak biasa ke lobi. Pada tiga kesempatan saat kami berpapasan, kami tidak bertegur sapa, walau kami mengangguk setengah ramah dan diam-diam. Aku ingin sekali berkenalan dengannya. Rasanya kesepian di tempat suram ini. Terkecuali nyonya lanjut usia di koridor, satu-satunya tamu permanen adalah pria di No. 212 dan aku sendiri. Akan tetapi aku tidak boleh mengeluh, karena keheningan total ini persis yang diresepkan dokter.

Aku penasaran apakah pria di No. 212 juga datang kemari untuk istirahat. Dia pucat sekali. Tapi aku tak percaya dia sakit, sebab kepucatannya bukan raut sakit, tapi justru sehat dalam kejernihan warna gadingnya. Pembawaannya adalah pembawa­an orang yang menikmati kesehatan terbaik. Dia jangkung dan lurus. Dia berjalan tegak dengan langkah cepat atletis. Muka pucatnya tak salah lagi adalah bawaan, kalau tidak, dia akan cepat menjadi cokelat di bawah matahari musim panas yang membakar ini.

Dia pasti datang kemari dengan mobil, karena dia bukan penumpang di atas kereta yang mengangkutku, dan dia mendaftar di hotel sesaat sesudah kedatanganku. Aku habis istirahat sebentar di kamar dan sedang menuruni tangga ketika menjumpainya naik dengan tasnya. Aneh sekali pak pelayan kami tidak mengantarnya ke kamar.

Rasanya aneh juga, dengan begitu banyak kamar kosong di hotel, dia harus memilih No. 212 di paling belakang. Gedung­nya panjang sempit setinggi tiga lantai. Kamar-kamar semua ada di sisi timur, sementara tembok barat sejajar dengan sebuah gedung bisnis tua. Koridornya panjang dan menjemu­kan; kertas dindingnya kaku dan kembung, memancarkan bau apek tak sedap. Bohlam-bohlam listrik redup yang menerangi­nya bersinar suram seperti dari kuburan. Jijik dengan koridor ini, aku mendesak agar diberi No. 201, yang berada di depan dan diberkahi pemandangan selatan. Kerani hotel, pria memuakkan berkumis Hitler, sangat enggan memberikannya padaku, karena biasanya itu dicadangkan untuk pelanggan jangka pendek yang lebih memberi keuntungan. Aku khawatir desakan gigihku telah menjadikannya musuh.

Andai saja aku suka menonjolkkan diri seperti tiga puluh tahun lalu! Pasti sekarang aku sudah jadi profesor penuh alih-alih asisten rapuh. Aku masih merasa jengkel dengan cara angkuh rektor saat menyarankan tanpa basa-basi agar aku liburan. Tentu saja dia bertindak untuk kepentingan terbaikku. Orang-orang yang menguasai kehidupan naasku selalu bertindak begitu.

Oh, well, istirahat musim panas mungkin akan sangat bermanfaat untukku. Enak rasanya jauh dari universitas. Ada sesuatu yang nyata-nyata memuaskan dari absennya wajah mahasiswa pasca-sarjana.

Andai saja tidak sesepi ini! Aku harus cari cara untuk bertemu pria pucat di No. 212 itu. Mudah-mudahan kerani hotel bisa mengaturnya.

Judul asli : The Pale Man ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment