Skip to content
Fajar Terakhir – Relift Media

Fajar Terakhir

“Bayangkan, selama seribu tahun gelombang api ini menyerbu ke arah kita, sementara kehidupan berlangsung begitu bahagia di dunia, tak sadar bahwa selama itu dunia ditakdirkan musnah. Dan sekarang inilah akhir kehidupan.”


“Aku mulai lelah,” keluh Davis, bermalas-malasan di jendela Gedung Fisika, “dan ngantuk. Sudah jam sebelas lewat. Ini malam keempat aku begadang untuk melihat bintang barumu, dan ini akan jadi malam terakhir. Benda itu diumumkan akan muncul tiga minggu lalu.”

“Apa kau lelah, Nona Wardour?” tanya Eastwood, dan sang gadis melirik ke atas dengan tersipu singkat dan gumaman “tidak”.

Eastwood kembali merenung: gadis itu memang pemalu sekali. Selain pemalu, dia hampir polos, meski rambutnya memiliki keindahan tersendiri yang tidak biasa, halus bagai sutera dan warnanya seperti api paling pucat.

Boleh jadi dia pintar; Eastwood pernah melihatnya membaca beberapa buku “berat”, tapi gadis itu nampak tak punya kesenangan, tak punya banyak minat. Sehari-hari dia bekerja di Art Students’ League, dan indekos di tempat yang sama dengannya, dan oleh sebab itu Eastwood mengajaknya dan keluarga Davis untuk memantau bintang baru dari jendela-jendela laboratorium di Heights.

“Apa kau betul-betul berpikir ada gunanya menunggu lebih lama lagi, profesor?” selidik Ny. Davis, menutupi kuap.

Eastwood agak kesal dengan tidak kunjung munculnya bintang itu dan dia benci dipanggil “profesor”, padahal hanya asisten profesor fisika.

“Entahlah,” jawabnya agak kasar. “Ini malam kedua belas aku menunggunya. Tentu saja akan jadi mukjizat matematika kalau sampai para astronom memecahkan soal semacam itu dengan tepat, meski mereka sudah mengantisipasinya selama seperempat abad.”

Gedung Fisika baru Universitas Columbia setinggi kurang-lebih dua belas lantai. Laboratorium fisika menempati lantai sembilan dan sepuluh, dengan ruang-ruang astronomi di atasnya, susunan yang mustahil sebelum ditemukannya bantal vibrasi minyak, yang hampir menyekat ruang-ruang instrumen dari bumi.

Eastwood sudah mengatur sebuah teleskop kecil di jendela, dan di bawah mereka terhampar peta Greater New York berhias lampu-lampu, menghembuskan hingar-bingar musikal sayup. Jalanan ramai, sebagaimana setiap malam sejak tanggal lima bulan ini, ketika bintang—atau matahari—baru nan besar itu disangka akan tampak.

Terdapat galat dalam perhitungan, tapi, seperti kata Eastwood, para astronom sudah mengantisipasinya selama 25 tahun.

Nyatanya, sekarang sudah hampir 40 tahun sejak Profesor Adolphe Bernier pertama kali mengumumkan teori alam semesta terbatas miliknya di International Congress of Sciences di Paris, di mana itu dianggap tak lebih dari mahakarya imajinasi.

Profesor Bernier tidak percaya bahwa alam semesta tidak terhingga luasnya. Di suatu tempat, argumennya, alam semesta pasti memiliki pusat, yaitu poros untuk revolusinya.

Bulan berrevolusi mengelilingi bumi, sistem planet berrevolusi mengelilingi matahari, tata surya berrevolusi mengelilingi salah satu bintang tetap, dan keseluruhan sistem ini pada gilirannya berrevolusi mengelilingi suatu titik lebih jauh. Tapi progresi semacam ini pasti berhenti di suatu tempat.

Di suatu tempat pasti ada sebuah matahari pusat, sebuah benda pijar raksasa yang tidak bergerak sama sekali. Dan karena matahari selalu lebih besar dan lebih panas daripada satelit-satelitnya, maka benda di pusat alam semesta ini pasti memiliki ukuran dan suhu melebihi apapun yang dikenal atau dibayangkan.

Bahwa benda hipotetis ini cukup besar untuk kelihatan dari bumi, orang-orang keberatan, dan Profesor Bernier menjawab suatu hari kelak itu pasti kelihatan. Cahayanya cuma belum sempat mencapai bumi.

Judul asli : Finis ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, November 2019
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment