Skip to content
Sosok di Gudang – Relift Media

Sosok di Gudang

Jika pintu hanya ditutup dan tidak dikunci, dia merinding ketakutan, tapi tetap diam; tapi jika pintu terbuka, jika garis hitam setipis apapun menunjukkan itu tidak ditutup rapat, maka si bocah tiga tahun akan menjerit.


Itu gudang bawah tanah yang besar, terlalu besar untuk rumah di atasnya. Pemilik mengakui gudang itu mungkin dibangun untuk jenis bangunan berbeda dari yang berdiri di atasnya. Boleh jadi rumah pertama terbakar, dan kemelaratan menyebabkan penyusutan hunian itu mengambil tempatnya.

Sebuah tangga batu putar menghubungkan gudang dengan dapur. Di sekitar dasar rangkaian anak tangga, para pemilik rumah terdahulu menempatkan kayu bakar, sayur-mayur musim dingin, dan rongsokan. Rongsokan didorong ke belakang sampai bertumpuk setinggi kepala, membentuk barikade tak berguna. Apa bagian belakang barikade itu, tak ada yang tahu dan tak ada yang peduli. Selama beberapa ratus tahun tak seorangpun menyeberanginya untuk menembus ke daerah-daerah gelap gudang di baliknya.

Di puncak anak tangga, memisahkan dapur dari gudang, terdapat pintu ék kokoh. Pintu ini, sedikit-banyak, sama-sama ganjil dan tak serasi dengan bangunan rumah. Itu jenis pintu yang aneh untuk ditemukan di sebuah rumah modern, dan tentu saja pintu paling tak biasa untuk ditemukan di dalam rumah—tebal, dibangun kokoh, disponeng secara terampil dengan engsel-engsel besi tempa besar, dan sebuah gembok yang terlihat seolah-olah berasal dari Kastil Putus Asa. Memisahkan sebuah rumah dari dunia luar, pintu semacam itu bisa dimaklumi; berayun antara dapur dan gudang bawah tanah, itu terasa tidak pantas.

Sejak bulan-bulan pertama hidupnya, Tommy Tucker tampak tak senang di dapur. Di ruang tamu depan, di ruang makan formal, dan terutama di lantai dua dia bertingkah seperti anak normal dan sehat; tapi bawalah ke dapur, dan seketika dia mulai menangis. Kedua orangtuanya, orang-orang biasa, makan di dapur kecuali apabila kedatangan tamu. Karena miskin, Ny. Tucker melakukan sendiri sebagian besar pekerjaan rumahtangganya, meski kadang mempekerjakan wanita tukang bersih-bersih untuk melakukan pembersihan ekstra di hari Sabtu, dan dengan begitu waktunya banyak dihabiskan di dapur. Dan Tommy ikut bersamanya, setidaknya selama dia belum bisa berjalan. Seringkali dia jelas tidak senang.

Saat belajar merangkak, dia tak membuang waktu untuk pergi dari dapur. Begitu ibunya membelakangi, si kecil merangkak secepat-cepatnya menuju lawang pintu yang terbuka ke bagian depan rumah, ruang makan, dan ruang tamu depan. Sekali jauh dari dapur, dia tampak senang; paling tidak berhenti menangis. Begitu dibawa kembali ke dapur, tangisan­nya meyakinkan para tetangga bahwa dia masuk angin sampai-sampai mereka membawakan lebih dari satu mangkok catnip dan teh sage untuk menolongnya.

Baru setelah anak itu belajar bicara, keluarga Tucker tahu apa yang membuatnya menangis begitu keras saat ada di dapur. Dengan kata lain, si bayi harus menderita selama berbulan-bulan sampai dia mendapat pertolongan kecil, dan ketika dia bercerita pun, orangtuanya sama sekali tak bisa mengerti. Ini tak perlu diherankan, karena mereka berdua orang-orang pekerja keras, ketimbang berpikiran dungu.

Apa yang akhirnya mereka dengar dari putera kecil mereka adalah ini: jika pintu gudang ditutup dan dikait rapat-rapat dengan besi berat, Tommy setidaknya bisa makan dengan tenang; jika pintu hanya ditutup dan tidak dikunci, dia merinding ketakutan, tapi tetap diam; tapi jika pintu terbuka, jika garis hitam setipis apapun menunjukkan itu tidak ditutup rapat, maka si bocah tiga tahun akan menjerit sampai kepayahan, apalagi kalau ayahnya yang letih tak memberinya izin untuk meninggalkan dapur.

Judul asli : Thing in the Cellar ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, September 2019
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment