Skip to content
Kisah Si Bungkuk – Relift Media

Kisah Si Bungkuk

Bangunlah dan gendong dia dan bentang­kan kain kepala sutera padanya. Aku akan keluar malam ini juga, dengan kau di belakangku, dan kalau kau bertemu siapapun, katakan saja: Ini puteraku.


Telah sampai kepadaku, wahai Raja yang baik, bahwa dahulu kala, bertahun-tahun dan berabad-abad lalu, hiduplah di suatu kota di China seorang Penjahit dermawan yang suka plesir dan bersenang-senang, dan yang, bersama isterinya, biasa menghibur diri dengan selingan dan hiburan dari waktu ke waktu.

Suatu hari mereka pergi di waktu fajar dan pulang di waktu senja dan tak sengaja bertemu seorang Bungkuk, yang penampilannya memeras tawa dari keseriusan dan mengusir horor keputusasaan. Jadi mereka mendekat untuk menikmati wajahnya dan mengundangnya ke rumah dan kongkow-kongkow dan mabuk-mabuk bersama mereka malam itu. Dia setuju dan menemani mereka pulang. Kemudian si Penjahit pergi ke pasar (malam baru saja turun) dan membeli ikan goreng, roti, dan manisan kering untuk pencuci mulut, dan menghidangkan makanan itu di depan si Bungkuk dan makan bersama. Tak lama, isteri Penjahit membawa sepasak besar ikan dan memberikannya dalam satu gumpalan kepada si Bungkuk seraya menyetop mulutnya dengan tangan dan berkata: “Demi Allah, kau harus menelannya sekali telan, dan takkan kuberi waktu untuk mengunyah.” Maka dia menelannya, tapi di dalamnya terdapat duri keras yang tersangkut di kerongkongan. Ajalnya tiba, dia mati.

Shahrazad merasa fajar sudah datang. Dia berhenti menyampaikan suaranya.

Pada Malam Kedua Puluh Lima, dia berkata:

Telah sampai kepadaku, wahai raja yang baik, bahwa ketika isteri Penjahit memberi si Bungkuk sesuap ikan yang meng­akhiri hidupnya, orang itu mati seketika. Melihat ini si Penjahit berteriak keras, “Tak ada Keagungan dan tak ada Kekuatan kecuali hanya pada Allah! Celaka, orang malang ini harus mati sebegitu konyol di tangan kita!”

Dan isterinya membalas, “Untuk apa omong-kosong ini? Belumkah kau mendengar pepatah:

Lalu kenapa aku membuang waktu dalam kesedihan,
sampai tak ada teman untuk memikul beban dukaku?
Bagaimana tidur di atas api yang berkobar tak terpadamkan?
Bersandar di atas kobaran saja cukup sulit!”

Bertanya suaminya, “Lalu apa yang harus kulakukan padanya?”

Dia menjawab, “Bangunlah dan gendong dia dan bentang­kan kain kepala sutera padanya. Aku akan keluar malam ini juga, dengan kau di belakangku, dan kalau kau bertemu siapapun, katakan saja: Ini puteraku. Aku dan ibunya sedang membawanya ke doktor untuk diperiksa.”

Maka si Penjahit bangun, menggendong si Bungkuk, menanggungnya sepanjang jalan, dipimpin oleh sang isteri yang terus meratap, “Wahai puteraku, Allah menjagamu! Bagian mana yang sakit dan sebelah mana cacar ini menyerangmu?”

Alhasil semua orang yang menjumpai mereka berkata, “Anak ini sakit cacar.”

Mereka terus berjalan menanyakan rumah dokter sampai orang-orang mengarahkan mereka ke rumah seorang rentenir Yahudi. Mereka mengetuk pintu, dan datanglah budak gadis kulit hitam membukakan. Melihat seorang pria menggendong bayi, dan ditemani seorang wanita, dia berkata kepada mereka, “Ada urusan apa?”

“Kami membawa anak kecil,” jawab isteri Penjahit, “dan kami ingin memperlihatkannya pada dokter. Jadi ambil seperempat dinar ini dan berikan kepada tuanmu. Suruh dia kemari untuk memeriksa puteraku yang sakit.”

Gadis itu naik untuk memberitahu tuannya. Habis itu sang isteri berjalan ke ruang depan dan berkata kepada suaminya, “Tinggalkan si Bungkuk di sini dan kita lari demi nyawa kita.” Maka si Penjahit membawa mayat ke puncak tangga dan menyandarkannya ke dinding dan melarikan diri, dia dan isterinya.

Judul asli : The Hunchback's Tale ()
Pengarang :
Seri :
Penerbit : Relift Media, November 2017
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment