Skip to content
Khalifah & Tiga Apel – Relift Media

Khalifah & Tiga Apel

Bagaimana aku akan temukan pembunuh gadis itu, agar dapat kubawa ke hadapan Khalifah? Kalau aku membawa selain pembunuhnya, Tuan akan membebankannya padaku.


Mereka meriwayatkan, wahai Raja abad ini, penguasa masa kini dan zaman ini, bahwa suatu malam Khalifah Harun al-Rasyid memanggil wazirnya, Ja’afar, dan berkata, “Aku ingin pergi ke kota dan menanyai rakyat jelata tentang tingkah laku orang-orang yang diamanahi pemerintahan; mereka yang dikeluhkan akan kita pecat dari jabatannya dan mereka yang dipuji akan kita promosikan.” Berkata Ja’afar, “Aku dengar dan taat!”

Maka Khalifah pergi ke kota bersama Ja’afar dan kasim Masrur dan berkeliling di jalan-jalan dan pasar-pasar. Saat blusukan ke sebuah gang sempit mereka menemukan seorang pak tua. Di atas kepalanya ada jaring ikan dan peti kayu untuk menampung ikan kecil, dan di tangannya ada tongkat. Sambil berjalan dengan langkah santai, dia mendeklamasikan baris ini:

Mereka bilang padaku: Kau pancarkan cahaya pada manusia
dengan tradisimu seperti malam yang diterangi Bulan!
Aku jawab, “Hentikan olokanmu dan cemoohmu;
tanpa kemujuran apalah artinya tahu?—orang malang nian!
Jika mereka bawa aku ke pegadaian beserta tradisi dalam tas,
beserta wadah tinta menulis dan jilid-jilid bacaan,
Untuk bekal sehari pun mereka tak pernah bisa menggadaiku;
seperti di Hari Kiamat menarik uang atas unjukan:”
Betapa buruk, memang, berjalan dengan orang miskin,
dengan eksistensi fakirnya dan kondisi rendahan:
Di musim panas dia tidak temukan bekal;
Di musim dingin periuk api jadi satu-satunya kesenangan:
Anjing jalanan bergigit dan bergonggong terhasut olehnya,
Dan setiap gembel menyambut dengan gonggong dan gigitan:
Jika dia angkat suara dan mengeluh teraniaya,
Tak seorangpun iba atau hirau, betapapun dia sungguhan;
Dan ketika duka dan naas seperti ini harus dia gempur
Rumah paling bahagianya adalah di dalam kubur.

Saat mendengar sajak ini Khalifah berkata kepada Ja’afar, “Lihat pria malang ini, perhatikan sajaknya, itu pasti mengacu pada kebutuhannya.”

Lantas dia menyapanya dan bertanya, “Wahai Syekh, apa pekerjaanmu?” dan pria malang itu menjawab, “Wahai tuanku, aku nelayan yang mempunyai keluarga untuk dinafkahi dan aku sudah bekerja dari tengah hari sampai sekarang, tapi belum satupun yang Allah jatahkan padaku sebagai rezeki untuk memberi makan keluarga. Aku bahkan tak bisa menggadaikan diri untuk membelikan makan malam dan aku benci dan jijik dengan hidupku dan aku mendamba kematian.”

Berkata Khalifah, “Katakan, maukah kau kembali bersama kami ke tepi sungai Tigris dan melempar jaringmu berdasarkan keberuntunganku, dan apapun yang kau dapat akan kubeli seharga seratus keping emas?”

Pria itu girang mendengar kata-kata ini dan berkata, “Kutanggung resikonya! Aku akan pergi lagi dengan kalian.”

Kembali ke sungai bersama mereka, dia melempar dan menunggu sebentar. Kemudian dia menarik tali dan menyeret jaring ke darat dan di dalamnya tampak sebuah peti digembok dan berat. Khalifah memeriksa dan mengangkatnya, dan ternyata itu berat sekali. Jadi dia memberikan dua ratus dinar kepada si nelayan dan menyuruhnya segera membereskan urusan. Sementara Masrur, dibantu Khalifah, menggotong peti ke istana dan menaruhnya, lalu menyalakan lilin. Ja’afar dan Masrur membongkarnya dan menemukan sekeranjang daun palem yang diikat dengan wol merah. Ini mereka gunting dan di dalamnya mereka melihat sehelai permadani yang kemudian diangkat. Di bawahnya terdapat mantila wanita dilipat empat, yang mereka tarik keluar. Dan di dasar peti mereka menemukan seorang wanita muda, halus seperti batang perak, terbunuh dan terpotong menjadi sembilan belas bagian.

Judul asli : The Tale of the Three Apples ()
Pengarang :
Seri :
Penerbit : Relift Media, June 2017
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment