Skip to content
Lompatan Quantum – Relift Media

Lompatan Quantum

Biarlah mereka ambil Mars dan Venus, biarlah mereka ambil seluruh Tata Surya! Kita akan buat lompatan quantum—selompat kodok di depan mereka. Kita akan jadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di sebuah planet di tata surya lain.


Brandon tengah memandang Bima Sakti. Lewat kanopi permaglas, dia bisa melihatnya mengekor sebentang beludru hitam angkasa raya, layaknya kudung pengantin putih. Di bawah kapal jelajah SC9B-nya terhampar gurun debu merah Sirius Tiga yang diterangi oleh cahaya tipis dua bulan es. Dia memandang Bima Sakti.

Dia memandangnya seperti seseorang yang memandang perapian berkelip-kelip tapi memikirkan hal lain. Dia memikir­kan matahari, pada jarak 52 triliun mil, titik cahaya yang tenggelam dalam silaunya Bima Sakti—planet Bumi bagai bintik debu di orbit dibanding majikannya, Sirius.

Sembilan tahun cahaya jauhnya. Memang, tiga belas tahun sudah berlalu di Bumi sejak mereka berangkat, sebab per­jalanan ini memakan waktu empat tahun menurut WT—waktu relatif. Tapi empat tahun pun terlalu lama untuk terkunci di dalam Astro Satu bersama lima orang lain, terutama bila salah seorang dari mereka adalah si angkuh Kolonel Towers.



“Lompatan quantum—itulah cara mendahului bangsa Merah,” kata kolonel untuk keseribu kalinya. Istilah usang ini tak ada kaitan dengan mekanika quantum—perubahan aktual pada susunan atom akibat penerapan energi yang cukup. Justru, itu adalah istilah gaul yang mengacu pada kemajuan besar dalam perjalanan antarplanet berkat upaya maksimum di bidang sains dan teknologi.

“Biarlah mereka ambil Mars dan Venus,” kata kolonel biasanya, “biarlah mereka ambil seluruh Tata Surya! Kita akan buat lompatan quantum—selompat kodok di depan mereka. Kita akan jadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di sebuah planet di tata surya lain.”

Empat tahun sudah berlalu di dalam kapal; tiga belas tahun di Bumi. Empat tahun Kolonel Towers. Disiplin militer semakin ketat setiap harinya. Antariksa berbuat konyol terhadap sebagian orang. “Kita akan jadi orang-orang pertama” telah berubah menjadi “Aku akan jadi orang pertama”.

Tapi Kapten Brandon-lah yang mendapat tugas penjelaja­han Sirius Tiga untuk mencari tempat pendaratan cocok bagi Astro, tugas penyampelan atmosfer dan peninjauan kondisi meteorologis. Bahkan sewaktu Brandon memanjat ke dalam kapal jelajah, Towers sudah memperingatkannya.

“Ingat, tugasmu adalah menemukan lokasi pendaratan kokoh, cukup terlindungi dari unsur-unsur. Kau tak boleh mendarat sendiri dalam keadaaan apapun. Jelas?”

Brandon mengangguk, lantas diluncurkan, dan kini sedang menjelajah seratus ribu kaki di atas planet asing.

Brandon memiringkan satu sayap kapal dan melirik hamparan gurun merah bata. Kabut merah kecil menandai badai debu. Sudah pasti ini bukan tempat yang tepat untuk menurunkan badan Astro, bukan pula untuk melindungi awak dan peralatan dari debu kasar.

Dia menegakkan kapal. Jauh di cakrawala terdapat setumpuk awan atmosfer. Kiranya kondisi di situ lebih menjanjikan. Dia mendorong posisi tenaga ke 90%.

Lampu indikator peringatan kebakaran berkedip-kedip. Sontak mata Brandon terpaku pada panel instrumen. Suhu pipa ekor baik-baik saja. Mungkin indikasinya salah. Dia turunkan kembali posisi tenaga, kalau-kalau lampu indikator akan padam. Ternyata tidak. Dia justru merasakan sentakan gemuruh jauh di dalam perut kapal. Jarum-jarum berkilauan, menari, lalu lampu merah kedua menyala.

Dia menjentikkan saklar video dan ditekannya tombol mikrofon.

“Astro Satu, ini Brandon. Ganti.”

Bunyi dedas mengisi alat dengarnya. Kisi cahaya dan bayangan berkedip-kedip di layar. Sebuah pikiran terlintas dalam benaknya. Mungkin dia sudah memasang terlalu banyak kelengkungan planet di antara Astro dan dirinya.

Judul asli : The Quantum Jump ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment