Skip to content
Lift Malam – Relift Media

Lift Malam

Jam 12 malam aku melangkah ke dalam lift. Sambil melewati lantai dua dan tiga aku bertanya-tanya siapa yang memanggil selarut ini. Aku berpikir, pasti orang asing yang tak tahu aturan hotel.


Aku biasa mengoperasikan lift di Empire Hotel, blok bangunan besar dalam deretan bata merah dan putih seperti sepek bergaris-garis, yang berdiri di simpang Jalan ........ Aku sudah menjalankan waktuku di tentara, dan diberhentikan dengan strip kelakuan baik. Bagaimana aku mendapat pekerjaan ini? Begini ceritanya. Hotel tersebut adalah perusahaan besar dengan komite pengelola yang terdiri dari para pensiunan perwira dan semacamnya; orang-orang dengan sedikit uang, dan merisaukannya, dan salah satu dari mereka adalah mendiang Kolonel. Dia baik hati bila kemauannya tidak dihalangi, dan saat aku minta pekerjaan padanya, “Tikus,” jawabnya, “kau orang yang tepat untuk bekerja di lift, di hotel besar kami. Prajurit adalah orang yang sopan dan cekatan, dan masyarakat menyukai mereka di urutan kedua setelah pelaut. Kami baru memecat pekerja terakhir, dan kau bisa ambil tempatnya.”

Aku cukup suka pekerjaanku dan upahnya, dan bertahan selama setahun, dan semestinya masih di sana kalau bukan karena suatu kondisi—. Tapi jangan terburu-buru. Lift kami adalah lift hidrolik. Tidak reyot berayun-ayun seperti sangkar beo pembebek di tangga vertikal, jadi aku tak perlu repot menjulurkan leherku. Jalannya semulus minyak. Anak kecil pun bisa mengoperasikannya. Aman saat berada di darat. Alih-alih dipasangi iklan hingga penuh seperti bus penumpang, kami punya cermin-cermin di dalamnya, dan kaum wanita biasa memandang diri mereka sendiri, menepuk-nepuk rambut, dan cemberut bila aku membawa mereka turun dalam keadaan berdandan. Itu seperti ruang duduk kecil, dengan bantal-bantal beludru merah untuk bersandar, dan mau tak mau kau memasukinya. Kau akan dilayangkan naik atau turun, ringan seperti burung.

Semua tamu sering menggunakan lift, naik ataupun turun. Sebagian dari mereka adalah orang Prancis, dan mereka menyebut lift sebagai “assenser”. Cukup bagus dalam bahasa mereka, pastinya. Tapi kenapa orang-orang Amerika, yang bisa berbahasa Inggris, dan selalu bertindak lebih cepat daripada bangsa lain, mesti membuang-buang waktu dan nafas dengan menyebut lift sebagai elevator, aku heran.

Aku mengawasi lift dari tengah hari sampai tengah malam. Pada jam seperti itu orang-orang yang pergi ke teater dan makan malam di luar sudah masuk, dan siapapun yang pulang larut harus berjalan naik tangga, karena pekerjaan harianku selesai. Salah seorang penjaga pintu mengoperasikan lift sampai aku bertugas lagi keesokan paginya. Tapi sebelum jam 12 tak ada hal istimewa, dan tidak banyak yang terjadi sampai lewat jam 2. Lalu aku bekerja keras menangani para tamu yang naik dan turun, dan bel listrik memanggil dari satu lantai ke lantai lain seperti rumah kebakaran. Lalu datanglah kehe­ningan di waktu makan malam, dan aku akan duduk nyaman di lantai sambil membaca koran, hanya saja aku tak boleh merokok. Tapi semuanya memang dilarang merokok. Dan aku harus meminta para lelaki berbaju bulu binatang untuk tidak merokok, karena melanggar aturan. Aku jarang menegur pria-pria Inggris, mereka tidak seperti para pemakai baju bulu yang seolah-olah merekatkan cerutu di bibirnya.

Aku selalu memperhatikan wajah orang-orang yang masuk lift. Aku punya pandangan tajam dan ingatan bagus. Para tamu tak perlu memberitahuku dua kali ke mana aku harus membawa mereka. Aku kenal mereka dan aku tahu lantai mereka sebagai­mana diri mereka sendiri.

Judul asli : How He Left the Hotel ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, November 2015
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment