Skip to content
Wanita atau Macan? – Relift Media

Wanita atau Macan?

Semakin kita hayati pertanyaan ini, semakin sulit menjawabnya. Ini melibatkan studi hati manusia yang membimbing kita melewati lika-liku hasrat, yang sulit ditemukan jalan keluarnya.


Dahulu kala, hiduplah seorang raja setengah barbar yang ide-idenya, meski diperhalus dan dipertajam oleh progresivitas tetangga-tetangga Latin jauh, masih besar, indah, dan tak terkekang, menjadi separuh dirinya yang lain. Dia orang yang berangan-angan tinggi dan wewenangnya begitu besar hingga semaunya mewujudkan berbagai angan itu menjadi kenyataan. Dia suka bicara sendiri. Bilamana dia dan dirinya sepakat pada sesuatu, maka pasti dilakukan. Ketika setiap anggota sistem politik dan dalam negerinya berjalan mulus sesuai jalur yang ditetapkan, sifatnya lemah-lembut dan ramah-tamah, tapi manakala ada sedikit rintangan, dan beberapa bidang keluar dari orbitnya, dia lebih lemah-lembut dan ramah-tamah lagi, sebab tak ada yang membuatnya senang selain meluruskan yang bengkok dan meratakan tempat-tempat tak rata.

Di antara gagasan pinjaman yang menyetengahkan barbarismenya adalah gelanggang publik, di mana, melalui pertunjukan manusia dan binatang, pikiran warganegaranya diperhalus dan diperbaiki.

Tapi, di sini pun, angan tinggi dan barbar menonjolkan diri. Gelanggang sang raja dibangun bukan untuk memberi rakyat­nya kesempatan mendengar rapsodi para gladiator sekarat, bukan pula agar mereka melihat akhir tak terelakkan dari konflik antara pendapat agama dan rahang-rahang lapar, melainkan demi tujuan yang jauh lebih sesuai yakni memper­luas dan mengembangkan energi mental rakyat. Amfiteater raksasa ini, dengan balkon-balkon yang mengelilingi, kolong-kolong misterius, dan gang-gang gaib, merupakan alat per­adilan puitis, di mana kejahatan dihukum, atau kebajikan diganjar, melalui dekrit untung-untungan yang tak memihak dan tak bisa disuap.

Ketika seorang warga negara dituduh melakukan kejahatan yang cukup penting dan menarik perhatian raja, dikeluarkanlah maklumat publik bahwa pada hari tertentu nasib si tertuduh akan diputuskan di gelanggang raja, sebuah bangunan yang pas dengan namanya. Walaupun bentuk dan denahnya dipinjam dari jauh, tujuannya memancar semata-mata dari otak orang ini, yang, sebagai raja absolut, tidak kenal tradisi kesetiaan selain memuaskan angannya, dan menyisipkan pertumbuhan idealisme barbarnya pada setiap adopsi bentuk pemikiran dan tindakan manusia.

Ketika seluruh rakyat sudah berkumpul di balkon-balkon, dan raja, dikelilingi para pemuka, duduk tinggi di atas sing­gasana megah di satu sisi gelanggang, dia memberi sinyal. Pintu di belakangnya pun terbuka, dan keluarlah si tertuduh menuju amfiteater. Tepat di seberangnya, di sisi lain ruang yang tertutup, terdapat dua pintu, sama persis dan berdampingan. Adalah kewajiban dan kehormatan terdakwa untuk berjalan lurus ke pintu-pintu ini dan membuka salah satunya. Dia boleh membuka yang manapun sesukanya, dia tidak tunduk pada pedoman atau pengaruh tapi pada untung-untungan yang tak memihak dan tak bisa disuap sebagaimana tadi disebutkan. Jika dia membuka yang satu, maka akan keluar seekor macan lapar, paling ganas dan kejam, yang segera menerjang dan mengoyak-ngoyaknya sebagai hukuman atas kejahatannya. Begitu kasus si narapidana diputuskan, lonceng-lonceng besi muram dibunyi­kan, ratapan hebat membumbung dari para pekabung upahan yang ditempatkan di bibir luar gelanggang, sementara para penonton, dengan kepala tertunduk dan hati pilu, pulang pelan-pelan ke arah rumah mereka, berkabung hebat karena seseorang yang begitu muda dan baik, atau tua dan terhormat, mesti mendapat nasib mengerikan.

Judul asli : The Lady, or the Tiger? ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment