Skip to content
Aku Bangga Menjadi Arya – Relift Media

Bacaan non-fiksi politik Aku Bangga Menjadi Arya

Aku berkata, “India, itu negara dengan banyak ras. Tapi itu satu-satunya negara di dunia yang agamanya memproklamirkan ras Arya sebagai yang paling unggul di antara semua dan memberikan kepemimpinan kepada orang-orang Arya saja, sesuai tradisi.”



Aku dilahirkan di Prancis pada 30 September 1905. Bukan dari orangtua Prancis sepenuhnya. Aku oto­matis warga Prancis karena semua anak yang dilahirkan di Prancis otomatis menjadi warga Prancis. Tapi ibuku orang Inggris. Ayahku, boleh dibilang, orang Mediterania. Ibunya dari Lombardy. Dia orang Yunani melalui ayahnya, tapi ayah­nya mengambil kewarganegaraan Prancis dulu sekali. Jadi: Yunani, Italia, dan Inggris.

Dan aku dilahirkan dari orangtua yang sudah berumur. Ibuku empat puluh tahun, ayahku empat puluh lima atau empat puluh enam. Dan entah detil ini menarik atau tidak, tapi kalau tak salah beratku sembilan ratus gram, tidak sampai sekilo, saat lahir. Semasa kecil, aku selalu menga­gumi Sparta kuno di Yunani, dan ibuku biasa berkata padaku, “Andai kau dilahirkan di Sparta, kau akan sudah dilempar ke dalam jurang saat lahir.” Jurang adalah celah di antara dua gunung, dan bayi-bayi yang tidak bugar untuk menjadi pe­juang atau ibunya pejuang dijatuhkan begitu saja ke dalam jurang saat lahir, atas perintah hakim Sparta. Di zaman purbakala, mereka hanya membesarkan anak-anak yang bugar. Aku sembilan ratus gram, tidak sampai sekilo; masuk jurang. Tapi aku dilahirkan di Prancis, di Prancis yang demo­kratis, jadi aku dibolehkan tumbuh besar.

Aku anak tunggal, dan sedari dini aku suka obrolan orang-orang dewasa. Aku tak pernah suka bermain dengan anak-anak lain. Aku merasa permainan mereka konyol. Aku suka diskusi. Aku suka bertanya, pertanyaan-pertanyaan aneh se­perti ini misalnya: “Api terbuat dari apa?” atau semacamnya.

Aku bisa ingat jauh ke belakang. Aku ingat kereta bayiku. Ibuku bilang dia menjualnya saat aku berumur dua tahun. Aku ingat betul itu, ingat betul. Aku ingat pernah mual karena persik. Mual di atas kereta bayiku. Aku ingat seprei­nya, putih dan biru dengan rumbai-rumbai. Aku biasa me­narik rumbai-rumbainya dan berkata, “Kalian ikut, kalian ikut, kalian ikut,” dan melepas mereka. Dan aku ingat, suatu kali kami ke taman, dan aku mengulurkan tangan ke luar kereta bayiku, dan tanganku jadi basah-kuyup. Aku berkata, “Mami, apa itu?” Aku hanya bicara bahasa Inggris karena ibu­ku orang Inggris. Dia orang Cornish. Jadi aku mengulurkan tanganku, dan aku berkata, “Apa itu?” Dia berkata, “Itu em­bun.” Well, itu sebuah kata baru! Aku mengulang-ulangnya sampai kami tiba di rumah: “embun, embun, embun, embun.” Aku ingat itu seolah-olah baru kemarin. Waktu itu umurku satu setengah tahun. Aku punya ingatan bagus tentang hal-hal. Dan hal-hal yang membuatku terkesan, aku selalu me­ngingatnya. Selalu.

Well, sebagai contoh, aku ingat keong. Di lingkunganku, kau merendam keong hidup ke dalam cuka untuk memaksa mereka keluar, untuk dimakan. Aku berkata, “Keong-keong malang.” Aku selalu cinta binatang. Aku selalu benci apapun tindakan manusia terhadap mereka. Aku menolak makan daging. Ibu dan ayahku tidak terlalu sering makan daging. Mereka makan daging di hari festival. Kadang Minggu, dan Natal, Paskah, hari-hari semisalnya. Tapi aku tak mengingin­kannya bahkan di hari-hari tersebut. Dan untuk Natal aku makan ercis bermentega, ercis rebus bermentega. Itulah makan malam Natalku. Dan seiris puding prem yang dibuat dengan mentega. Dia tidak membuatnya dengan lemak, karena dia tahu aku takkan memakannya. Aku punya pe­mikiran yang sangat kuat. Dan tak ada yang bisa mengubah­ku.

Dan satu hal yang menggangguku sejak berumur lima tahun adalah eksperimen pada binatang, sirkus, industri bulu, semua bidang di mana binatang menjadi korban. Eks­perimen pada binatang, tidak! Aku berkata, “Selama itu ada, aku tidak akan bicara sepatah katapun tentang hal-hal yang menimpa manusia.” Dan sampai hari ini, ketika aku men­dengar hal-hal yang terjadi di Afrika, di Uganda—Idi Amin Dada konon seorang monster, seorang tiran, apapun itu—aku tak peduli sama sekali. Selama mereka melakukan ekspe­rimen pada binatang di laboratorium mereka, aku tidak akan mengecam Idi Amin Dada. Dia orang Negro. Biar saja dia me­lakukan apa yang dia suka. Toh, korban-korbannya juga orang-orang Negro. Aku tak peduli sama sekali. Orang-orang Negro di antara orang-orang Negro. Biar saja mereka me­lakukan itu.

Mereka biasa memberikan literatur misionaris kepadaku. Isinya tentang gadis kecil yang dibesarkan di lingkungan kanibal. Sekolah misi datang ke desanya. Dan dia benci pada ide memakan orang, orang-orang dari suku musuh. Dan akhirnya dia menjadi seorang Kristiani. Aku biasa berkata blak-blakan pada orang-orang, “Jika kalian sebut itu unggul, dan jika kalian harus mengagumi gadis kecil ini, kenapa kalian tidak mengagumiku? Aku punya standar.” Aku tidak mengatakannya dalam kata-kata ini, tentu saja. Maksudku, “Standar perilakuku lebih tinggi daripada standar kalian. Kalian tidak menghormati binatang. Aku menghormati. Jadi kenapa kalian tidak mengagumiku jika aku harus menga­gumi gadis kecil ini?” Itu kurang ajar. Aku sangat kurang ajar. Aku tak pernah takut bersikap kurang ajar kecuali jika aku dihukum berat, misalnya di sekolah.

Satu hal lain yang kuingat adalah film pertamaku di tahun 1912. Ibuku ingin menonton Quo Vadis. Itu sedang diputar di bioskop di Lyons. Dan dia ingin menitipkanku di rumah sese­orang. Dia ingin pergi sendiri. Tak ada yang menginginkanku karena aku terlalu nakal. Jadi dia harus mengajakku, dan dia mengajakku. Dan aku menonton Quo Vadis. Tentu saja aku tidak mengerti intrik-intrik film itu. Tapi aku melihat tangga-tangga marmer, wanita-wanita Romawi dalam bahan ber­lipat, naik dan turun dengan penata rambut Romawi mereka, segalanya cantik dan selaras. Tentu saja ada singa-singa di gelanggang dan orang-orang Kristen yang diberkati. Tapi aku mengagumi singa-singanya. Aku suka mereka. Kucing-kucing amat besar. Aku tak keberatan mereka memakan orang-orang. Mereka kucing-kucing mata besar. Aku ber­pikir, andai aku ada di gelanggang itu, aku akan mengelus mereka. Dan saat aku keluar, aku bilang pada ibuku, “Saat dewasa nanti, aku ingin jadi orang Romawi.” Dia berkata, “Kenapa kau ingin jadi orang Romawi?” “Karena mereka can­tik. Kau lihat, mami, mereka cantik. Aku suka gaun mereka.” Dan kini, setelah berpuluh-puluh tahun, saat kulihat diriku mengenakan sari, aku merasa ini seperti mimpi anak enam tahun yang terwujud.

Satu hal lain yang mengesankanku dalam film ini adalah film beritanya. Film beritanya adalah tentang tenggelamnya Titanic. Titanic tenggelam kalau tak salah pada 12 April 1912, dan aku melihat peristiwa tenggelam itu dalam film berita. Dan seseorang, pembicara, memberitahu kami bahwa ada seorang wanita Inggris yang tidak diperbolehkan naik sekoci penolong karena dia membawa anjing, anjing kecil. Mereka bilang, “Kau boleh naik tapi tidak anjingmu.” Dia berkata, “Aku lebih suka tenggelam dengan anjingku daripada naik tanpanya.” Dan aku mengingat itu. Dan saat pulang, aku ber­kata pada ibuku, “Lihat betapa tak logisnya, lihat betapa bodohnya! Wanita itu mungkin beratnya lima puluh kilo, anjing itu katakanlah sepuluh kilo. Mereka menolak wanita itu dengan anjingnya, enam puluh kilo. Dan jika seorang manusia seberat sembilan puluh kilo ikut naik, mereka akan membawanya. Lihat hal tak logis itu! Jika mereka ingin sela­matkan banyak orang, mereka harusnya selamatkan anak-anak saja dan biarkan orang-orang dewasa mati di laut. Itu logika mereka. Mereka menentang logika mereka sendiri. Aku tidak suka itu, mami. Aku tidak suka itu.” Itu salah satu dari hal-hal yang kukatakan saat berumur enam tahun.

Aku bersekolah untuk pertama kalinya pada 1 Oktober 1911. Umurku tepat enam tahun. Aku sudah bisa membaca dan menulis dan bisa mengalikan, menambahkan, mengu­rangi, dan membagi dengan satu angka. Ibuku yang meng­ajariku. Di sekolah Katolik, aku tahu aku harus tutup mulut berdasarkan agama Kristen yang baik. Dan di sekolah dewan tempat aku bersekolah sesudah itu, aku harus tutup mulut tentang Revolusi Prancis, yang aku benci. Aku tak pernah suka Deklarasi Hak Asasi Manusia dan ide kesetaraan. Aku tidak suka itu. Aku merasa sesuatu yang cantik tidak setara dengan hal sejenis yang jelek. Aku berpikir, yang kuat tidak mungkin setara dengan yang lemah, dll. Ada beberapa nilai alami di atas semuanya.

Mereka memasang Déclaration des droits de l’homme pada sebuah panel di koridor, dan suatu hari aku minta izin untuk pergi ke WC (maaf). Dan mereka berkata, “Baik, silakan.” Aku tidak pergi. Aku ke koridor, berdiri di depan panel itu, dan melakukan gestur buruk ini. Itu sangat kasar di Prancis. Aku melakukan itu padanya. Dan ibu kepala sekolah menangkap basahku dan berkata, “Kenapa kau lakukan itu?” Aku berkata, “Karena itu semua bohong.” “Siapa yang bilang itu padamu, ayahmu?” Aku berkata, “Tidak, tidak, ayahku mendukungnya. Dia suka hal itu, tapi aku tidak.” “Kenapa kau tidak suka itu? Kenapa kau berpikir itu bohong?” “Well, karena kesetaraan adalah bohong.” “Kenapa kau berpikir kesetaraan adalah bohong?” Aku berkata, “Karena seorang gadis cantik tidak setara dengan seorang gadis jelek. Seorang gadis jelek lebih rendah.” Dan aku menyebutkan dua gadis di kelasku. Aku bilang, “Si anu, aku suka si anu. Dia gadis baik, tentu saja, tapi dia di bawah yang ini. Yang ini gadis cantik.” Seorang gadis cantik pirang bermata biru bernama Aimée Villon. Dan ibu kepala sekolah tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia berkata, “Well, kau akan dihukum.” Aku bilang, “Hukum aku jika kau mau. Aku tak keberatan. Aku tidak mendukung Revolusi Prancis.” “Kau lebih suka jadi budak di bawah raja-raja?” Aku berkata, “Sebagai budak di bawah raja-raja, aku punya sesuatu untuk dicintai. Kemegahan raja adalah sesuatu yang bisa mempesonaku. Tapi tidak ada kemegahan dalam repub­lik, dalam kumpulan beratus-ratus orang yang memberikan keputusan. Apa yang bisa dicintai dari mereka? Apa yang bisa dicintai dari mereka? Mereka bukan orang. Aku bisa men­cintai seseorang. Aku tak bisa mencintai sekumpulan.” Aku mengatakan itu. Mereka tak mengatakan hal lain padaku. Tapi aku sangat muda.

Persis sebelum Perang Dunia I, aku memulai kunjungan mingguanku ke Musée Guimet. Itu museum Asiatik. Atau lebih tepatnya, itu cabang Lyons dari museum Asiatik besar di Paris. Aku sedang bermain, membuat pai lumpur, di taman umum tak jauh dari situ. Hujan mulai turun. “Mah,” kataku, “sekarang hujan. Kita tak punya payung. Ke mana kita harus pergi?” Ibuku berkata, “Kita harus berteduh di suatu tempat. Kita bisa berteduh di museum.” Maka kami masuk ke museum, berteduh dari hujan.

Dan ibuku bertanya, “Kau mau lihat peninggalan purba­kala atau binatang?” Aku berkata, “Aku lebih suka melihat pe­ninggalan purbakala, karena binatang-binatang itu mainan. Aku tak suka melihat binatang mainan. Aku suka melihat binatang hidup.” “Baiklah.” Aula pertama adalah patung-patung Asyur. Ada sebuah mumi di sana. Kami melihat peninggalan purbakala Mesir, peninggalan purbakala Asyur, dan kemudian kami naik ke lantai atas. Itu beraroma cen­dana dan dupa. Dan aku menghirupnya dalam-dalam. Aku suka itu. Dan ada lukisan-lukisan Tibet, dan ada lukisan-lukisan Thailand. Aku suka gayanya juga. Itu tempat yang sangat bagus. Tiba-tiba aku ada di bagian Timur. Langsung masuk ke Timur. Aku suka itu. Aku melihat ruangan India, aku melihat ruangan China, aku melihat ruangan Jepang dan segalanya. Aku sangat tertarik.

Aku bertanya, “Mami, bolehkah aku ke sini setiap hari Minggu?” Ibuku berkata, “Ya, setiap Minggu dari jam 2 sampai jam 5, tempat ini buka. Kau bisa datang ke sini. Kita akan tenang.” Karena di rumah aku biasa membuat cukup gaduh untuk ukuran anak sepuluh tahun. Dan aku pergi ke sana setiap Minggu selama hampir sepuluh tahun. Dan itu adalah pembentukan Asiatik-ku. Aku belajar sejarah Asia dari museum itu, sesedikitnya sejarah Asia yang kutahu di masa itu. Aku punya sebuah buku, The Musée Guimet, yang mem­bahas semua sejarah, mitologi, dan agama-agama populer Jepang dan China—tentunya China lama, sebelum Mao. Aku sangat tertarik. Aku suka itu. Asia tak pernah terasa asing bagiku. Aku tidak merasa asing di sini. Seperti di Eropa saja.

* Atas seizin The Savitri Devi Archive (savitridevi.org).

Judul asli : Autobiography, §1-7 ()
Pengarang :
Seri : Aku Arya Nazi #1
Penerbit : Relift Media, November 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Aku Bangga Menjadi Arya

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)